Saturday, December 31, 2016

Pentingnya Menggunakan Media Pembelajaran di Sekolah Dasar

Seorang “guru” pasti pernah mendengar tentang media pembelajaran. Tapi pertanyaannya apakah setiap guru pernah mengunakan media pembelajaran dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar? Sebagian malah tidak pernah menggunakan media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajarnya.
Kita tentu sepakat, bahwa media pembelajaran  sangat membantu mencapai  tujuan pembelajaran. Kenyataannya,   banyak jenis dan ragam media di sekitar kita yang dapat  kita temukan, kembangkan dan manfaatkan  untuk  menunjang pembelajaran kita.  Masalahnya adalah, mengapa sampai saat ini masih ada guru yang enggan menggunakan media dalam mengajar? Beberapa alasan berikut  mungkin merupakan jawabannya :
1.      Guru menganggap bahwa menggunakan media itu menambah repot.  Jika kita jujur,  barangkali inilah alasan utamanya. Mengajar dengan menggunakan media memang perlu persiapan. Apalagi jika media itu menggunakan  peralatan elektronik seperti video atau komputer. Guru sudah repot dengan membuat  persiapan  mengajar (SATPEL), jadwal yang  padat, mengejar target kurikulum, dan lain-lain. Belum lagi repot dengan urusan keluarga. Mana sempat lagi memikirkan media.
2.      Media itu barang canggih dan mahal.Pandangan seperti ini juga masih ada di kalangan para guru. Alasan ini tentu tidak sepenuhnya benar. Media tidak selalu canggih dan mahal. Nilai penting dari dari sebuah media bukan terletak pada kecanggihannya, apalagi kemahalan harganya, melainkan terletak pada pada efektifitas dan efisiensinya dalam membantu proses pembelajaran.
3.      Tidak bisa atau takut menggunakan (gagap teknologi).Gagap teknologi (gatek), ternyata juga masih dialami oleh sebagian guru kita. Ada beberapa guru yang “takut” dengan peralatan elektronik. Mungkin takut kesetrum atau takut salah pencet. Alasan ini menjadi lebih parah kalau ditambah takut rusak.
4.      Media itu hanya untuk hiburan sedangkan belajar itu harus serius.Alasan ini memang jarang ditemui, namun ada guru yang berpandangan demikian.
5.      Tidak tersedianya  media di sekolah, mungkin   ini alasan yang sering ditemui di lapangan, terutama di daerah-daerah. 
6.      Kebiasaan guru mengandalkan ceramah.Mengajar dengan hanya mengadandalkan verbalistik saja memang lebih mudah, tidak perlu banyak persiapan. 
Sebenarnya, melaksanakan kegiatan belajar mengajar tanpa menggunakan media pembelajaran bisa saja berhasil. Tapi tingkat keberhasilannya mungkin tidak setinggi ketika menggunakan media pembelajaran.
Seperti tugas akhir kuliah kemarin, ketuntasan hasil belajar siswa waktu menggunakan media pembelajaran dan tidak menggunakan media pembelajaran terdapat perbedaan yang signifikan.

Jadi, alangkah baiknya kalau kita sebagai guru menguasai dan mampu menggunakan media pembelajaran untuk menunjang kegiatan belajar mengajar di kelasnya. Barang kali perlu direnungkan kembali ungkapan populer yang mengatakan : Saya mendengar saya lupa, Saya melihat saya ingat, Saya berbuat maka saya bisa.
Pertanyaan selanjutnya, Apa yang dimaksud dengan media pembelajaran? Dan apa fungsinya? Berikut adalah pengertian media pembelajaran menurut para ahli :
1.      Gerlach & Ely: “media pembelajaran memiliki cakupan yang  sangat luas, yaitu termasuk manusia, materi atau kajian yang membangun suatu kondisi  yang membuat peserta didik mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap. Media pembelajaran mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dalam pembelajaran, sehingga bentuknya bisa berupa perangkat keras (hardware), seperti computer, TV, projector, dan perangkat lunak (software) yang digunakan pada perangkat keras itu.
2.      Oemar Hamalik (1980): “Mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan media pendidikan adalah alat, metode, dan teknik yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah
3.      Arief S. Sadiman, dkk (1984) mengemukakan bahwa kata media berasal dari bahasa Latin yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.
4.      Latuheru(1988:14), menyatakan bahwa media pembelajaran adalah bahan, alat, atau teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi komunikasi edukasi antara guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna. Berdasarkan definisi tersebut, media pembelajaran memiliki manfaat yang besar dalam memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran.


Sedangkan fungsi dari media pembelajaran adalah :
1.      Media sebagai sumber belajar, Belajar adalah proses aktif dan konstruktif melalui suatu pengalaman dalam memperoleh informasi. Dalam proses aktif tersebut, media pembelajaran berperan sebagai salah satu sumber belajar bagi siswa. Artinya melalui media peserta didik memperoleh pesan dan informasi sehingga membentuk pengetahuan baru pada siswa. Dalam batas tertentu, media dapat menggantikan fungsi guru sebagai sumber informasi/pengetahuan bagi peserta didik. Media pembelajaran sebagai sumber belajar merupakan suatu komponen system pembelajaran yang meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik, dan lingkungan, yang dapat mempengaruhi hasil belajar peserta didik. (Mudhoffir,dalam Munadi, 2008).
2.      Fungsi Semantik, Semantik berkaitan dengan “meaning” atau arti dari suatu kata, istilah, tanda atau symbol.
3.      Fungsi Manipulatif, kemampuan media dalam menampilkan kembali suatu benda/peristiwa dengan berbagai cara, sesuai kondisi, situasi, tujuan dan sasarannya.
4.      Fungsi fiksatif, fungsi yang berkenaan dengan kemampuan suatu media untuk menangkap, menyimpan kembali suatu objek atau kejadian yang sudah lama terjadi.
5.      Fungsi distributif media pembelajaran berarti bahwa dalam sekali penggunaan satu materi, objek atau kejadian, dapat diikuti oleh peserta didik dalam jumlah besar (tak terbatas) dan dalam jangkauan yang sangat luas sehingga dapat meningkatkan efesiensi baik waktu maupun biaya.
6.      Fungsi Psikologis, dari segi psikolgis, media pembelajaran memiliki beberapa fungsi seperti fungsi atensi, fungsi afektif, fungsi kognitif fungsi imajinatif dan fungsi motivasi.
*      Dr. rer. nat. H. Rayandra Asyhar, M.Si (2011), Kreatif Mengembangkang Pembelajaran, GP. Press, Jakarta.

Menurut Derek Rowntree, media pembelajaran dapat:
a.       Membangkitkan motivasi belajar
b.      Mengulang apa yang telah dipelajari
c.       Menyediakan stimulus belajar
d.      Mengaktifkan respon murid
e.       Memberikan feedback dengan segera
f.       Menggalakkan latihan yang serasa

Menurut Edgar Dale, Finn dan Hobar, media pembelajaran dapat:
a.       Memberikan pengalaman konkrit bagi pemikiran yang abstrak
b.      Mempertinggi perhatian murid
c.       Memberikan realitas, mendorong self actifity
d.      Memberikan hasil belajar yang permanent
e.       Menambah perbendaharaan bahasa
f.       Memberikan pengalaman lain yang sukar diperoleh dengan cara lain.

Proses pembelajaran melalui komunikasi verbal saja, cenderung bersifat ekspositoris , artinya guru bertindak sebagai komando sementara siswa bersifat pasif dan hanya mengikuti apa komando sang guru. Padahal menurut Rustyah (1982 : 49 -52) dalam pembelajaran diharapkan ada hubungan interaktif di antara individu (guru dengan siswa, siswa dengan siswa, dan siswa dengan  lingkungan yang lain seperti media) atau apa yang disebut dengan istilah multi comunication. Dengan demikian siswa ikut terlibat secara menyeluruh dalam proses pembelajaran yang sedang berlansung.

Media pembelajaran yang dapat digunakan dalam kegiatan  pembelajaran terdiri dari beberapa jenis media pengajaran yaitu media foto, grafik, globe, atlas, film dan sebagainya. Beberapa media pegajaran yang sering digunakan adalah: Pertama, media Grafis seperti gambar, foto, grafik, bagan atau diagram, poster, kartun, komik dan sebagainya, Kedua, media tiga dimensi yaitu model padat, model penampang, model susun, model kerja, mock up, diorama, Ketiga, media proyeksi seperti slide, film strips, film, OHP dan Keempat, penggunaan lingkungan sebagai media.

Media grafis adalah media yang digunakan yang berusaha memadukan antara kata-kata dengan gambar. Dalam bahasa Yunani Grafikos berarti melukiskan atau menggambarkan garis-garis. Media tersebut terdiri dari beberapa jenis yaitu: bagan adalah kombinasi antara media grafis dan gambar foto yang dirancang untuk memvisualisasikan secara logis dan teratur mengenai fakta pokok atau gagasan.

Fungsi media pengajaran sebagai alat bantu untuk dapat meningkatkan dan mempertinggi hasil belajar siswa harus didukung oleh ketepatan seorang guru dalam memeilih media yang akan dipergunakan dalam suatu kegiatan proses belajar mengajar. Oleh karena itu seorang guru sebelum memilih media pengajaran tertentu harus menegetahui betul materi yang akan diajarkan, metode yang dipilih, kemudian menentukan jenis alat bantu atau media pengjaran yang akan digunakan. Secara khusus beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam menggunakan media pengajaran untuk mempertingi kualitas pengajaran adalah:


  • Pertama, guru perlu memiliki pemahaman media pengajaran antara lain jenis dan manfaat media pengajaran, kriteria memilih dan menggunakan media pengajaran,menggunakan media sebagai alat bantu mengajar dan tindak lanjut penggunaan media dalam proses belajar siswa. 
  • Kedua, Guru terampil menggunakan dan membuat media pengajaran sederhana untuk keperluan pengajaran terutama media dua dimensi atau gambar atau foto serta penggunaan media proyeksi.
  • Ketiga, keefektifan dalam menilai penggunaan media  dalam proses pengajaran.
Media pengajaran harus memperhatikan beberapa pertimbangan diantaranya adalah ketepatan dengan tujuan pengajaran. Hal tersebut berarti bahwa media pengajaran yang dipilih harus didasarkan  atas tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan oleh guru sebelumnya.  Selain itu juga media pengajaran  yang telah dipilih harus disesuaikan  engan si bhan atau materi pengajaran yang akan disampaikan. Dengan demikian bahan pengajaran  yang disampaikan harus diklasifikasikan dan disesuaikan dengan media yang dipilih bedasarkan sifat bahan pelajaran apakah fakta, konsep atau generalisasi yang memerlukan bantuan media untuk dapat dipahami dengan mudah oleh siswa.

Selain beberapa hal tersebut, juga yang perlu dipertimbangkan seorang guru dalam memilih media pengajaran  adalah kemampuan guru itu sendiri menggunakan media pengajaran  yang dipilihnya. Apapun jenis media yang dipilih harus disesuaikan dengan kemampuan guru untuk menggunakan media tersebut. Dan selain itu juga harus disesuaiakn dengan kemampuan berfikir siswa sehingga makna yang terkandung didalamnya dapat dipahami dengan mudah oleh siswa.

Media yang digunakan dlam proses belajar mengajajar haruslah memiliki kualitas dan mutu yang baik meskipun media tersebut adalah merupakan hasil karya guru sendir, nilainya tidak mahal, sederhana dan seterusnya. Karena dalam pemilihan media pengajaran tidak perlu dipaksakan, karena media pengajaran  yang mahal dan membutuhkan waktu lama dalam pembuatannya belum tentu menajdi jaminan sebagai media pengajaran  yang terbaik. Media yang diilih seharusya dapat bersifat fleksibel dan dapat digunakan dimana-mana dengan peralatan yang tersedia disekitar kita.

Nah sekarang pertanyaannya, Apakah seorang guru dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran?

Ada sebuah kata yang menarik dari sebuah buku yang rasanya berjudul “Tahun 2025” yang kalau dihubungkan dengan tema yang kita bahas jadi berbunyi seperti ini :
Jangan bertanya “apakah kita bisa meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran?” tapi bertanyalah “apakah kita mau meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran.”

Untuk penutup, marilah kita bersama-sama meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia khususnya pendidikan dasar dengan belajar menggunakan media pembelajaran untuk terciptanya pendidikan yang berkualitas.

Saturday, December 10, 2016

Contoh RPP Model Example non Example terbaru

Guru saat ini dituntut untuk selalu inovatif dalam melaksanakan pembelajaran. karena hal itu dapat menunjang keberhasilan proses belajar mengajar di sekolah. salah satu yang perlu dilakukan seorang guru untuk menunjang keberhasilan kegiatan belajar mengajar adalah dengan menggunakan model pembelajaran. untuk memberi materi pelajaran kepada siswa dengan efektif maka seorang pendidik (guru) harus menggunakan model pembelajaran yang efektif pula.

salah satu model pembelajaran yang inovatif dan efektif adalah "model pembelajaran example non example". apakah itu model example non example? bagaimana langkah-langkahnya? serta bagaimana kekurangan dan kelebihannya? mari kita pelajari bersama.

baca juga : model pembelajaran talking stick

PENGERTIAN MODEL EXAMPLE NON EXAMPLE




Model Example non Example adalah strategi pembelajaran yang menggunakan media gambar dalam penyampaian materi pembelajaran yang bertujuan mendorong siswa untuk belajar berfikir kritis dengan jalan memecahkan permasalahan-permasalahan yang terkandung dalam contoh-contoh gambar yang disajikan.

Menurut Buehl (1996) dalam Apariani dkk, (2010:20) menjelaskan bahwa examples non examples adalah taktik yang dapat digunakan untuk mengajarkan definisi konsep. Taktik ini bertujuan untuk mempersiapkan siswa secara cepat dengan menggunakan 2 hal yang terdiri dari examples dan non examples dari suatu definisi konsep yang ada dan meminta siswa untuk mengklasifikasikan keduanya sesuai dengan konsep yang ada. Examples memberikan gambaran akan sesuatu yang menjadi contoh akan suatu materi yang sedang dibahas, sedangkan non examples memberikan gambaran akan sesuatu yang bukanlah contoh dari suatu materi yang sedang dibahas.

Model Pembelajaran Examples non Examples menggunakan gambar sebagai media pembelajaran. Media gambar merupakan salah satu alat yang digunakan dalam proses belajar mengajar yang dapat membantu mendorong siswa lebih melatih diri dalam mengembangkan pola pikirnya. Dengan menerapkan media gambar diharapkan dalam pembelajaran dapat bermanfaat secara fungsional bagi semua siswa. Sehingga dalam kegiatan pembelajaran siswa diharapkan akan aktif dan semangat untuk belajar.

Pembelajaran kooperatif model Examples Non Examples melatih siswa untuk dapat mampu berpartisipasi aktif dan berkomunikasi. Kemampuan ini sangat penting sebagai bekal mereka dalam kehidupan di masyarakat kelak. Oleh sebab itu, sebelum melakukan kooperatif, guru perlu membekali siswa dengan kemampuan berkomunikasi. Tidak setiap siswa mempunyai kemampuan berkomunikasi, misalnya kemampuan mendengarkan dan kemampuan berbicara, padahal keberhasilan kelompok ditentukan oleh partisipasi setiap anggotanya.

baca juga : model pembelajaran Make a Match

Langkah-Langkah Model Pembelajaran Examples Non Examples
      Menurut (Agus Suprijono, 2009 : 125) Langkah – langkah model pembelajaran  

     Examples Non Examples, diantaranya :   
    1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.

        Gambar-gambar yang digunakan tentunya merupakan gambar yang relevan dengan 
        materi yang dibahas sesuai dengan Kompetensi Dasar.
    2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui LCD/OHP/In Focus
        Pada tahap ini Guru dapat meminta bantuan siswa untuk mempersiapkan gambar 
        dan membentuk kelompok siswa.
    3. Guru memberi petunjuk dan kesempatan kepada peserta didik untuk memperhatikan/
        menganalisa  gambar.
        Peserta didik diberi waktu melihat dan menelaah gambar yang disajikan secara 
        seksama agar detil gambar dapat dipahami oleh peserta didik, dan guru juga memberi
        deskripsi tentang gambar yang diamati.
    4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut
         dicatat pada kertas. 
         Kertas yang digunakan sebaiknya disediakan guru.
    5. Tiap kelompok diberi kesempatan untuk membacakan hasil diskusinya.
        dilatih peserta didik untuk menjelaskan hasil diskusi mereka melalui perwakilan
        kelompok masing-masing.
    6. Mulai dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai
          dengan tujuan yang ingin dicapai.
    7. Guru dan peserta didik menyimpulkan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran.
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN MODEL EXAMPLE NON EXAMPLE
Kelebihan :
Menurut Buehl (Depdiknas, 2007:219) mengemukakan keuntungan metode example non example antara lain:
  • Siswa berangkat dari satu definisi yang selanjutnya digunakan untuk memperluas pemahaman konsepnya dengan lebih mendalam dan lebih kompleks.
  • Siswa terlibat dalam satu proses discovery (penemuan), yang mendorong mereka untuk membangun konsep secara progresif melalui pengalaman dari example dan non example
  • Siswa diberi sesuatu yang berlawanan untuk mengeksplorasi karakteristik dari suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non example yang dimungkinkan masih terdapat beberapa bagian yang merupakan suatu karakter dari konsep yang telah dipaparkan pada bagian example.
Keunggulan lainnya dalam model pembelajaran examples non examples diantaranya :
  • Siswa lebih berfikir kritis dalam menganalisa gambar yang relevan dengan Kompetensi Dasar (KD)
  • Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar yang relevan dengan Kompetensi Dasar (KD)
  • Siswa diberi kesempata mengemukakan pendapatnya yang mengenai analisis gambar yang relevan dengan Kompetensi Dasar (KD)
Tennyson dan Pork (Slavin, 2002) menyarankan bahwa jika guru akan menyajikan contoh dari suatu konsep maka ada tiga hal yang seharusnya diperhatikan, yaitu:
  • Urutkan contoh dari yang gampang ke yang sulit. 
  • Pilih contoh-contoh yang berbeda satu sama lain. 
  • Bandingkan dan bedakan contoh-contoh dan bukan contoh.
Dampak instruksional dan dampak pengiring yang dimiliki model pembelajaran Examples Non Examples. Dampak instruksional adalah dampak yang terlihat setelah kegiatan pembelajaran. Sedangkan dampak pengiring adalah damapak yang tidak langsung terlihat, akan tetapi mengiringi dampak instruksional. Pada pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Examples Non Examples dampak instruksionalnya adalah siswa menjadi lebih aktif, berani mengemukakan pendapat atau gagasannya sendiri, aktif berdiskusi, dapat belajar dari pengamatan sendiri. Dampak pengiringnya adalah siswa mampu meningkatkan kerjasama secara kooperatif untuk materi yang ditugaskan, bertanggung jawab, berusaha memahami materi dengan baik, dan meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah
Kelemahan :
Ada dua kelemahan dalam menggunakan model Examples Non Examples, diantaranya : 
1)        Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.       
2)        Memakan waktu yang banyak.
 
demikian pembahasan tentang materi model Examples Non Examples, semoga dapat menambah wawasan kita bersama. 

sebagai tambahan bagi teman-teman yang ingin mencari contoh RPP dengan menggunakan model pembelajaran Examples Non Examples silakan klik link di bawah ini :
link 1     : Ilmukami
link 2     : scribd


Friday, November 25, 2016

Karakteristik Anak Masa Kelas Rendah

Masa usia sekolah adalah babak terakhir bagi periode perkembangan dimana manusia masih digolongkan sebagai anak masa usia sekolah dikenal juga sebagai masa tengah dan akhir dari masa kanak-kanak, pada masa inilah anak paling siap untuk belajar. Mereka ingin menciptakan sesuatu, bahkan berusaha untuk dapat membuat sesuatu sebaik-baiknya, ingin sempurna dalam segala hal. Pada masa ini anak menjalani sebagian besar dari kehidupannya di sekolah yaitu di Sekolah Dasar. pada masa ini dikatakan pula sebagai masa konsolidasi. Masa usia sekolah dasar sering pula disebut sebagai masa intelektual atau masa keserasian sekolah. Pada masa keserasian sekolah ini secara relatif anak-anak lebih mudah dididik dari pada sebelumnya dan sesudahnya. Masa ini dapat dirinci lagi menjadi 2 fase, yaitu 
  1. Masa kelas-kelas rendah sekolah dasar kira-kira umur 6 atau 7 tahun sampai umur 9 atau 10 tahun
  2. Masa kela-kelas tinggi sekolah dasar kira-kira umur 9 tahun 10 tahun sampai kira-kira umur 12 atau 13 tahun
Pada kesempatan ini kita fokus membahas tentang Karakteristik Anak Masa Kelas Rendah. Anak  SD yang berada di kelas  rendah adalah anak yang berada pada rentang usia dini. Massa usia dini ini merupakan massa perkembangan anak yang pendek tetapi massa  yang sangat penting bagi kehidupannya, oleh karena itu seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong agar potensi anak akan berkembang secara optimal . perkembangan dan karakteristik anak pada usia SD berbeda-beda Antara anak yang satu dengan anak yang lainnya, karakter anak pada masa kelas rendah berbedah dengan karakter anak pada  kelas tinggi hal ini dapat dilihat dalam proses pembelajaran anak. usia sekolah dasar utamanya yang ada di kelas rendah belum dapat mengembangkan keterampilan kognitifnya secara penuh, akan tetapi anak di kelas rendah belum dapat mengembangkan keterampilan kognitifnya secara penuh, akan tetapi anak di kelas tinggi sudah dapat berfikir, berkreasi secara luas. 

Adapun karakteristik Anak Masa Kelas Rendah menurut Sumantri dan Nana Syaodih (2006) adalah :
            1.      Senang Bermain
Pada umumnya anak SD terutama kelas-kelas rendah itu senang bermain. Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan lebih – lebih untuk kelas rendah. Guru SD seyogyanya merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya. Guru hendaknya mengembangkan model pengajaran yang serius tapi santai. Penyusunan jadwal pelajaran hendaknya diselang saling antara mata pelajaran serius seperti IPA, Matematika, dengan pelajaran yang mengandung unsur permainan seperti pendidikan jasmani, atau Seni Budaya dan Keterampilan (SBK).
2.      Senang Bergerak
Karakteristik yang kedua adalah senang bergerak, orang dewasa dapat duduk berjam-jam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak. Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang lama, dirasakan anak sebagai siksaan.
3.      Senangnya Bekerja dalam Kelompok
Melalui pergaulannya dengan kelompok sebaya, anak dapat belajar aspek-aspek penting dalam proses sosialisasi seperti : belajar memenuhi aturan-aturan kelompok,belajar setia kawan,belajar tidak tergantung pada orang dewasa di sekelilingnya,mempelajari perilaku yang dapat diterima oleh lingkungannya,belajar menerima tanggung jawab, belajar bersaing secara sehat bersama teman-temannya, belajar bagaimana bekerja dalam kelompok,belajar keadilan dan demokrasi melalui kelompok. Karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. Guru dapat meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil dengan anggota 3-4 orang untuk mempelajari atau menyelesaikan suatu tugas secara kelompok.
4.      Senang Merasakan atau Melakukan Sesuatu Secara Langsung
Berdasarkan teori tentang psikologi perkembangan yang terkait dengan perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasi konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, anak belajar menghubungkan antara konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama. Pada masa ini anak belajar untuk membentuk konsep-konsep tentang angka ,ruang,waktu, fungsi badan,peran jenis kelamin,moral. Pembelajaran di SD cepat dipahami anak, apabila anak dilibatkan langsung melakukan atau praktik apa yang diajarkan gurunya. Dengan demikian guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang arah mata angin, dengan cara membawa anak langsung keluar kelas, kemudian menunjuk langsung setiap arah angin, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah akan diketahui secara persis dari arah mana angin saat itu bertiup.

Sedangkan menurut Basset, Jacka, dan Logan:(1983) karakter anak SD kelas rendah serta implikasinya terhadap pembelajaran adalah :
1.    kongkrit, siswa sd kelas rendah salah satu karakteristiknya yaitu belajar dari hal-hal yang konkrit dan secara bertahap menuju kearah yang abstrak.Kongkrit maksudnya belajar dari hal –hal yang nyata , misalnya dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba bahkan diotak atik, itu disebabkan karena anak sd kelas rendah belum bisa menggambarkan atau membayangkan sesuatu berdasarkan penjelasan atau teori. Oleh karena itu pembelajaran ips harus diusahakan ada media atau alat peraga sesuai dengan tujuan  materi yang diajarkan..memanfaatkan lingkungan sekitar dalam proses belajar mengajar akan menghasilkan hasil belajar yang lebih bernilai.
2.   Integratif , yaitu pada tahap anak sd kelas rendah anak masih memandang sesuatu sebagai satu keutuhan, mereka belum bisa memisahkan suatu konsep ke bagian demi bagian.oleh karena itu dalam pembelajaran ips harus dilakukan secara bertahap,dari hal-hal umum yang mudah dipahami ke hal-hal yang lebih khusus.
3.      Hierarkis, yaitu cara belajar anak yang berkembang secara bertahap dari hal yang sederhana ke hal yang lebih kompleks.oleh karena itu pembelajaran ips materi atau ilmu yang diajarkan hrus logis atau masuk akal, agar mudah dimengerti oleh siswa.

4.    Suka bermain dan lebih suka bergembira / riang (Basset, Jacka, dan Logan:1983) , anak SD kelas rendah masih suka bermain dan suka bergembira  disebabkan karena mereka berada pada tahap peralihan dari TK yang penuh dengan permainan.implikasinya terhadap pembelajaran ips, guru harus menciptakan suasana belajar yang nyaman dan penuh ceriah dengan merancang model pembelajaran yang serius tapi santai.
5.    Mereka biasanya tergetar perasaannya dan terdorong untuk berprestasi sebagaimana mereka tidak suka mengalami ketidakpuasan dan menolak kegagalan. (Basset, Jacka, dan Logan:1983
6.   Krakteristik anak SD kelas rendah adalah senang merasakan atau melakukan / memperagakan sesuatu secara langsung ditinjau dari teori perkembangan kognitif anak SD memasuki tahap opersional kongkrit. Impliklasinya yaitu guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
7.  Siswa masih senang belajar bersama temannya atau berkelompok karena pergaulannya dengan kelompok sebaya . karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak  untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. Karena anak pada usia ini cenderung ingin mengajar anak-anak lainnya.
8.      sebagian siswa tertentu misalnya yang paling kecil, besar, gemuk/ kurus ataupun kecacatan fisik lainnya biasanya suka mencari perhatian seperlunya, oleh karena itu pembelajarannya hendaknya diberikan perhatian khusus seperlunya dan diberikan kasihsayang tampak pamrih
9.      Siswa usia ini sedang mengalami masa peka / sangat cepat untuk meniru , mendapat contoh / figure dari guru yang dipavoritkannya.karena itu di dalam pembelajarannya guru hendaknya  bersikap baik dan bisa menjadi contoh bagi murid-muridnya.
10.   Bahasa yang digunakan anak usia ini masih dipengaruhi oleh usia ibu Karena bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sederhana tidak kompleks.
11.  Rasa ingin tahu yang tinggi, anak-anak SD usia ini sangat kritis mereka sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan diluar dugaan jadi alam pembelajaran 

Contoh RPP dan Pengertian Model Pembelajaran Inquiry

Suatu pembelajaran biasanya akan lebih efektif jika suatu pembelajaran tersebut didesain supaya menyenangkan bagi siswa. Salah satunya yait...