Friday, November 25, 2016

Karakteristik Anak Masa Kelas Rendah

Masa usia sekolah adalah babak terakhir bagi periode perkembangan dimana manusia masih digolongkan sebagai anak masa usia sekolah dikenal juga sebagai masa tengah dan akhir dari masa kanak-kanak, pada masa inilah anak paling siap untuk belajar. Mereka ingin menciptakan sesuatu, bahkan berusaha untuk dapat membuat sesuatu sebaik-baiknya, ingin sempurna dalam segala hal. Pada masa ini anak menjalani sebagian besar dari kehidupannya di sekolah yaitu di Sekolah Dasar. pada masa ini dikatakan pula sebagai masa konsolidasi. Masa usia sekolah dasar sering pula disebut sebagai masa intelektual atau masa keserasian sekolah. Pada masa keserasian sekolah ini secara relatif anak-anak lebih mudah dididik dari pada sebelumnya dan sesudahnya. Masa ini dapat dirinci lagi menjadi 2 fase, yaitu 
  1. Masa kelas-kelas rendah sekolah dasar kira-kira umur 6 atau 7 tahun sampai umur 9 atau 10 tahun
  2. Masa kela-kelas tinggi sekolah dasar kira-kira umur 9 tahun 10 tahun sampai kira-kira umur 12 atau 13 tahun
Pada kesempatan ini kita fokus membahas tentang Karakteristik Anak Masa Kelas Rendah. Anak  SD yang berada di kelas  rendah adalah anak yang berada pada rentang usia dini. Massa usia dini ini merupakan massa perkembangan anak yang pendek tetapi massa  yang sangat penting bagi kehidupannya, oleh karena itu seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong agar potensi anak akan berkembang secara optimal . perkembangan dan karakteristik anak pada usia SD berbeda-beda Antara anak yang satu dengan anak yang lainnya, karakter anak pada masa kelas rendah berbedah dengan karakter anak pada  kelas tinggi hal ini dapat dilihat dalam proses pembelajaran anak. usia sekolah dasar utamanya yang ada di kelas rendah belum dapat mengembangkan keterampilan kognitifnya secara penuh, akan tetapi anak di kelas rendah belum dapat mengembangkan keterampilan kognitifnya secara penuh, akan tetapi anak di kelas tinggi sudah dapat berfikir, berkreasi secara luas. 

Adapun karakteristik Anak Masa Kelas Rendah menurut Sumantri dan Nana Syaodih (2006) adalah :
            1.      Senang Bermain
Pada umumnya anak SD terutama kelas-kelas rendah itu senang bermain. Karakteristik ini menuntut guru SD untuk melaksanakan kegiatan pendidikan yang bermuatan permainan lebih – lebih untuk kelas rendah. Guru SD seyogyanya merancang model pembelajaran yang memungkinkan adanya unsur permainan di dalamnya. Guru hendaknya mengembangkan model pengajaran yang serius tapi santai. Penyusunan jadwal pelajaran hendaknya diselang saling antara mata pelajaran serius seperti IPA, Matematika, dengan pelajaran yang mengandung unsur permainan seperti pendidikan jasmani, atau Seni Budaya dan Keterampilan (SBK).
2.      Senang Bergerak
Karakteristik yang kedua adalah senang bergerak, orang dewasa dapat duduk berjam-jam, sedangkan anak SD dapat duduk dengan tenang paling lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak. Menyuruh anak untuk duduk rapi untuk jangka waktu yang lama, dirasakan anak sebagai siksaan.
3.      Senangnya Bekerja dalam Kelompok
Melalui pergaulannya dengan kelompok sebaya, anak dapat belajar aspek-aspek penting dalam proses sosialisasi seperti : belajar memenuhi aturan-aturan kelompok,belajar setia kawan,belajar tidak tergantung pada orang dewasa di sekelilingnya,mempelajari perilaku yang dapat diterima oleh lingkungannya,belajar menerima tanggung jawab, belajar bersaing secara sehat bersama teman-temannya, belajar bagaimana bekerja dalam kelompok,belajar keadilan dan demokrasi melalui kelompok. Karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. Guru dapat meminta siswa untuk membentuk kelompok kecil dengan anggota 3-4 orang untuk mempelajari atau menyelesaikan suatu tugas secara kelompok.
4.      Senang Merasakan atau Melakukan Sesuatu Secara Langsung
Berdasarkan teori tentang psikologi perkembangan yang terkait dengan perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasi konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, anak belajar menghubungkan antara konsep-konsep baru dengan konsep-konsep lama. Pada masa ini anak belajar untuk membentuk konsep-konsep tentang angka ,ruang,waktu, fungsi badan,peran jenis kelamin,moral. Pembelajaran di SD cepat dipahami anak, apabila anak dilibatkan langsung melakukan atau praktik apa yang diajarkan gurunya. Dengan demikian guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang arah mata angin, dengan cara membawa anak langsung keluar kelas, kemudian menunjuk langsung setiap arah angin, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah akan diketahui secara persis dari arah mana angin saat itu bertiup.

Sedangkan menurut Basset, Jacka, dan Logan:(1983) karakter anak SD kelas rendah serta implikasinya terhadap pembelajaran adalah :
1.    kongkrit, siswa sd kelas rendah salah satu karakteristiknya yaitu belajar dari hal-hal yang konkrit dan secara bertahap menuju kearah yang abstrak.Kongkrit maksudnya belajar dari hal –hal yang nyata , misalnya dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba bahkan diotak atik, itu disebabkan karena anak sd kelas rendah belum bisa menggambarkan atau membayangkan sesuatu berdasarkan penjelasan atau teori. Oleh karena itu pembelajaran ips harus diusahakan ada media atau alat peraga sesuai dengan tujuan  materi yang diajarkan..memanfaatkan lingkungan sekitar dalam proses belajar mengajar akan menghasilkan hasil belajar yang lebih bernilai.
2.   Integratif , yaitu pada tahap anak sd kelas rendah anak masih memandang sesuatu sebagai satu keutuhan, mereka belum bisa memisahkan suatu konsep ke bagian demi bagian.oleh karena itu dalam pembelajaran ips harus dilakukan secara bertahap,dari hal-hal umum yang mudah dipahami ke hal-hal yang lebih khusus.
3.      Hierarkis, yaitu cara belajar anak yang berkembang secara bertahap dari hal yang sederhana ke hal yang lebih kompleks.oleh karena itu pembelajaran ips materi atau ilmu yang diajarkan hrus logis atau masuk akal, agar mudah dimengerti oleh siswa.

4.    Suka bermain dan lebih suka bergembira / riang (Basset, Jacka, dan Logan:1983) , anak SD kelas rendah masih suka bermain dan suka bergembira  disebabkan karena mereka berada pada tahap peralihan dari TK yang penuh dengan permainan.implikasinya terhadap pembelajaran ips, guru harus menciptakan suasana belajar yang nyaman dan penuh ceriah dengan merancang model pembelajaran yang serius tapi santai.
5.    Mereka biasanya tergetar perasaannya dan terdorong untuk berprestasi sebagaimana mereka tidak suka mengalami ketidakpuasan dan menolak kegagalan. (Basset, Jacka, dan Logan:1983
6.   Krakteristik anak SD kelas rendah adalah senang merasakan atau melakukan / memperagakan sesuatu secara langsung ditinjau dari teori perkembangan kognitif anak SD memasuki tahap opersional kongkrit. Impliklasinya yaitu guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran.
7.  Siswa masih senang belajar bersama temannya atau berkelompok karena pergaulannya dengan kelompok sebaya . karakteristik ini membawa implikasi bahwa guru harus merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak  untuk bekerja atau belajar dalam kelompok. Karena anak pada usia ini cenderung ingin mengajar anak-anak lainnya.
8.      sebagian siswa tertentu misalnya yang paling kecil, besar, gemuk/ kurus ataupun kecacatan fisik lainnya biasanya suka mencari perhatian seperlunya, oleh karena itu pembelajarannya hendaknya diberikan perhatian khusus seperlunya dan diberikan kasihsayang tampak pamrih
9.      Siswa usia ini sedang mengalami masa peka / sangat cepat untuk meniru , mendapat contoh / figure dari guru yang dipavoritkannya.karena itu di dalam pembelajarannya guru hendaknya  bersikap baik dan bisa menjadi contoh bagi murid-muridnya.
10.   Bahasa yang digunakan anak usia ini masih dipengaruhi oleh usia ibu Karena bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sederhana tidak kompleks.
11.  Rasa ingin tahu yang tinggi, anak-anak SD usia ini sangat kritis mereka sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan diluar dugaan jadi alam pembelajaran 

Thursday, November 24, 2016

Contoh RPP Dengan Model Role Playing (Bermain Peran) Terbaru

Untuk menunjang suatu pembelajaran agar pembelajaran tersebut menjadi efektif, di butuhkan model pembelajaran. Sebenarnya banyak Model Pembelajaran yang dapat meningkatka keefektifan kegiatan pembelajaran, Namun pada kesempatan ini Model yang akan di bahas  adalah Model Bermain Peran atau Role Paying


Bermain peran adalah pembelajaran yang bertujuan untuk membantu siswa dalam menemukan jati dirinya dalam lingkungan sekolah, keluarga, dan lingkungan masyarakat dalam memecahkan masalahnya dengan bantuan kelompok. Diharapkan dengan bermain peran siswa dapat menyadari adanya peran yang berbeda dengan dirinya yaitu perilaku orang lain. Model ini dikembangkan oleh George Shaffel.

Manfaat Model Pembelajaran Bermain Peran
Banyak manfaat dari model pembelajaran bermain peran ini, yaitu:
  1. Sebagai sarana untuk menggali perasaan siswa.
  2. Untuk mengembangkan keterampilan siswa dalam memecahkan masalahnya.
  3. Untuk mendapatkan inspirasi dan pemahaman yang dapat mempengaruhi sikap, nilai, dan persepsinya.
  4. Untuk mendalami isi mata pelajaran yang dipelajari.
  5. Untuk bekal terjun ke masyarakat dimasa mendatang sehingga siswa dapat membawa diri, menempatkan diri, menjaga dirinya sehingga tidak asing lagi apabila dalam kehidupan bermasyarakat terjadi banyak siswa yang berbeda-beda.

Dengan metode bermain peran, diharapkan siswa dapat menghayati dan berperan dalam berbagai figur khayalan atau figur sesungguhnya dalam berbagai situasi. Metode bermain peran yang direncanakan dengan baik dapat menanamkan kemampuan bertanggung jawab dalam bekerja sama dengan orang lain, menghargai pendapat dan kemampuan orang lain, dan belajar mengambil keputusan dalam hubungan kerja kelompok. Metode ini dapat diterapkan pada pengajaran PKn dengan pokok bahasan tentang hubungan kehidupan sosial, misalnya: peranan tokoh-tokoh, susunan dan masyarakat feudal.
Melalui metode bermain peran dapat melibatkan aspek-aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Aspek kognitif meliputi pemecahan masalah. Aspek afektif meliputi sikap, nilai-nilai pribadi/orang lain, membandingkan, mempertentangkan nilai-nilai, mengembangkan empati atas dasar tokoh yang mereka perankan. Sedangkan aspek psikomotor terlihat ketika siswa memainkan peran di depan kelas. Dengan demikian, diharapkan minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran PKn yang selalu kaku dan memjemukan dapat disegarkan kembali.
Tujuan dan manfaat role playing(menurut Shaftel)
  1. Agar menghayati sesuatu kejadian atau hal yang sebenarnya dalan realita hidup.
  2. Agar memahami apa yang menjadi sebab dari sesuatu serta bagaimana akibatnya.
  3. Untuk mempertajam indera dan rasa siswa terhadap sesuatu.
  4. Sebagai penyaluran/pelepasan ketegangan dan perasaan-perasaan.
  5. Sebagai alat mendiagosa keadaan kemampan siswa.
  6. Pembentukan konsep secara mandiri.
  7. Menggali peranan-peranan dari pada seseorang dalam suatu kehidupan kejadian/keadaan.
  8. Membina siswa dalam kemampuan memecahkan masalah berfikir kritis, analisis, berkomunikasi, hidup dalam kelompok dan lain-lain.
  9. Melatih anak ke arah mengendalikan dan membaharui perasaannya, cara berfikirnya, dan perbuatannya.

C. Prosedur/Langkah-langkahnya
  1. Guru mengadakan pemanasan (warming up), guru menjelaskan permasalahan yang akan dijadikan bahan bahan bermain peran, sikap jujur.
  2. Memilih partisan, guru dan siswa menjelaskan karakter.
  3. Menata ruang tempat untuk bermain peran biasanya tetap di kelas, kecuali jika kelas tinggi yang akan digunakan sebagai pertunjukkan perpisahan kelas, perlu ruang/tempat yang sesuai, biasanya unutk kelas rendah hanya mengatur skenario sederhana, misalnya siapa yang jadi anak tidak jujur atau yang jujur dan siapa yang keluar dulu dan seterusnya.
  4. Langkah keempat ini, guru juga memikirkan yang lain, anak yang tidak main peran juga harus dilibatkan walaupun sebagai penonton agar mengamati temannya.
  5. Permainan dimulai, walaupun masih banyak anak yang bingung dan malu-malu, sambil tertawa gembira, jika tidak bisa berjalan dengan baik guru bisa menghentikan dan diulang lagi atau bila perlu diganti siswa yang lebih cocok.
  6. Guru mendiskusikan tentang pelaksanaan bermain peran ini bila perlu alur ceritanya diubah sedikit atau banyak.
  7. Permainan diulang lagi setelah mendapatkan pembenahan-pembenahahan.
  8. Membahas jalan jalannya main peran, guru memberikan-masukan agar lebih menjiwai lagi.
  9. Guru menutup dan menyimpulkan bersama siswa, namun guru akhirnya memberi siswa penegasan bahwa dalam gambar tadi ada anak yang tidak jujur, dijauhi teman dan anak yang jujur disenangi, disegani teman, guru, dan orang tua.

D. Aplikasi
Bermain peran bisa juga untuk memecahkan masalah sosial atau kasus yang dihadapi publik atau siswa sendiri. Guru berupaya menegaskan kemampuan untuk menanamkan sikap perasaan pada dirinya sendiri atau orang lain/teman lain dan dapat pengetahuan untuk memecahkan masalah.

Contoh Model I: Bermain Peran

Standar Kompetensi:
1. Mengenal lembaga-lembaga negara dalam susunan pemerintahan tingkat pusat seperti MPR, DPR, Presiden, MA, MK, dan BPK, dll.
2. Menyebutkan organisasi pemerintahan tingkat pusat, seperti Presiden, wakil Presiden, dan para Menteri.

Contoh Model I: Bermain Peran
Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden
Kelas IV semester 2
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami sistem pemerintahan tingkat pusat 1. Mengenal lembaga-lembaga negara dalam susunan pemerintahan tingkat pusat seperti MPR, DPR, Presiden, MA, MK, dan BPK, dll
2. Menyebutkan organisasi pemerintahan tinkat pusat, seperti Presiden, wakil Presiden, dan para Menteri.

Langkah-langkah:
  1. Pertama, guru memberikan penjelasan tentang sistem pemerintahan tingkat pusat.
  2. Kedua, guru menjelaskan dan memilih peran tentang cara pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dan menentukan siswa untuk bermain peran.
  3. Ketiga, guru menjelaskan tata cara bermain peran, Guru dan siswa menata ruang kelas.
  4. Keempat, guru memberitahu kepada anak yang tidak bermain peran menjadi pemilih sekaligus mencatat tata cara pemilihan.
 Siswa bermain peran.
  1. Kelas ditata seperti Tempat Pemungutan Suara (TPS). Siswa melakukan pencoblosan/pemilihan Presiden dan wakil Presiden di bilik pencoblosan dengan mencoblos salah satu gambar calon Presiden dan wakil Presiden yang ada pada kertas pemilihan. Setelah itu, siswa memasukkan kertas pemilihan ke kotak suara.
  2. Siswa melakukan penghitungan suara.
  3. Presiden dan Wakil Presiden yang terpilih berpidato.
  4. Guru menjelaskan bahwa pemilihan Presiden dan wakil Presiden merupakan perwujudan sistem pemerintahan tingakt pusat. Guru menjelaskan Presiden dan wakil Presiden yang terpilih harus menepati janji-janjinya, bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya, tidak KKn dan tidak boleh sombong dan tetap baik kepada masyarakat. Bagi calon yang tidak terpilih harus berlapang dada menerima kekalahannya dan mendukung program yang dijalankan Presiden dan wakil Presiden terpilih.
  5. Guru mengakhiri permainan.
  6. Guru menjelaskan mengenai sistem pemerintahan pusat.
  7. Guru memberikan pertanyaan lisan mengenai pemilihan umum. Selanjutnya, sebagai tindak lanjut, guru menugaskan siswa mencari dan mencatat lembaga-lembaga negara dalam susunan pemerintahan tingkat pusat serta organisasi pemerintahan tingkat pusat. 
untuk contoh RPP Lengkap dengan menggunakan Model Role Playing (Bermain Peran) dapat didownload pada link di bawah ini :
https://www.dropbox.com/s/p67fh727i316fsk/RPP%20dengan%20model%20Role%20Playing%20%28bermain%20peran%29.docx?dl=0

Wednesday, November 16, 2016

Contoh RPP Model Pembelajaran Kooperatif tipe Talking Stick

Model Pembelajaran Kooperatif tipe Talking Stick (tongkat bicara) adalah metode yang pada mulanya digunakan oleh penduduk asli Amerika untuk megajak semua orang berbicara atau menyampaikan pendapat dalam suatu forum (pertemuan antar suku).

Tongkat berbicara telah digunakan selama berabad-abad oleh suku-suku Indian sebagai alat menyimak secara adil dan tidak memihak. Tongkat berbicara sering digunakan kalangan dewan untuk memutuskan siapa yang mempunyai hak berbicara. Pada saat pimpinan rapat mulai berdiskusi dan membahas masalah, ia harus memegang tongkat. Tongkat akan pindah ke orang lain apabila ia ingin berbicara atau menanggapinya. Dengan cara ini tongkat berbicara akan berpindah dari satu orang ke orang lain jika orang tersebut ingin mengemukakan pendapatnya. Apabila semua mendapatkan giliran berbicara, tongkat itu lalu di kembalikan lagi ke ketua/pimpinan rapat. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa talking stick dipakai sebagai tanda seseorang mempunyai hak suara (berbicara) yang diberikan secara bergiliran/bergantian.

Talking stick termasuk salah satu model pembelajaran kooperaktif. Model pembelajaran ini dilakukan dengan bantuan tongkat, siapa memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya. Pembelajaran talking stick sangat cocok diterapkan bagi siswa SD, SMP, dan SMA/SMK. Selain untuk melatih berbicara, pembelajaran ini akan menciptakan suasana yang menyenangkan dan membuat siswa aktif.
Namun, setiap model pembelajaran pasti memiliki kelemahan dan kelebihan karena keefektifan setiap model tergantung bagaimana kondisi yang ada di sekolah atau kelas tersebut. kelebihan dan kekurangan Talking Stick adalah sebagai berikut:

Kelebihan :
  1. Menguji kesiapan siswa.
  2. Melatih membaca dan memahami dengan cepat.
  3. Agar lebih giat dalam belajar.

Kekurangannya :
  1. Membuat siswa senam jantung. 
untuk mengunduh RPP yang menggunakan  Model Pembelajaran Kooperatif tipe Talking Stick (tongkat bicara) silakan klik tautan di bawah ini :
download

Created By : Agus Sardi, S. Pd

Sunday, November 13, 2016

Pengertian dan contoh RPP Model Pembelajaran Make A Match

Guru sering menemukan masalah di dalam melaksanakan kegiatan mengajar di kelas, baik yang berkaitan dengan siswa, metode, media, atau hasil belajar siswa yang selalu rendah. Berkaitan dengan permasalahan di atas maka sudah seharusnya guru berusaha mengatasi masalah-masalah tersebut agar tujuan pembelajaran tercapai. Kunandar (2008: 63) mengemukakan bahwa guru dapat memecahkan permasalahan nyata yang terjadi di dalam kelas yang dialami langsung dalam interaksi antara guru dengan siswa. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru adalah melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan model Make a Match.

Model pembelajaran Make – A Match (Mencari Pasangan) dikembangkan oleh Lorna Curran (Jumadi,2009). Salah satu keunggulan tehnik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan.

Langkah-langkah model pembelajaran Make A Match:
  1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk seri review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
  2. Setiap siswa mendapatkan satu buah kartu.
  3. Setiap siswa memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang.
  4. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya.
  5. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
  6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapatkan kartu berbeda dan sebelumnya. Demikian seterusnya.
  7. Penutup (Depdiknas, 2006).
Suyatno (2009: 121) juga menyebutkan langkah-langkah model pembelajaran Make A Match sebagai berikut.
  1. guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk seri review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban
  2. setiap siswa mendapat satu buah kartu
  3. tiap siswa memikirkan pasangan yang mempunyai kartu yang dipegang
  4. setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
  5. setiap siswa yang yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu yang ditetapkan diberi poin
  6. setelah satu babak kartu dikocok lagi agar setiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya
  7. kesimpulan.
Langkah-langkah pelaksanaannya dimulai dari guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
Kartu tersebut ditempel di karton, agar bentuknya lebih baik dapat ditulis pada kertas berwarna, sehingga dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk belajar IPS. Setiap siswa mendapat satu buah kartu dan diminta untuk memikirkan jawaban/soal dari karu yang dipegang. Kemudian setiap siswa mencari pasangan yang cocok dengan kartunya. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi point. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar setiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumya, demikian seterusnya. Bila kita cermati cara pembelajaran semacam ini akan melatih siswa untuk selalu berfikir kritis dan selalu berusaha untuk mencari jawaban atas permasalahan dalam pembelajaran. Hal ini sangat sesuai dengan dasar pemikiran yang dikemukakan Jean Piaget tentang teori kontoktivisme (Nurhadi, 2004: 36) yang mengatakan bahwa pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman. Senada dengan itu, Holil mengemukakan dalam http://pkab.wordpress.com/2008/04/23/teori-belajar-kontruktivisme/: bahwa :
“setiap prinsip yang paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun diri sendiri pengetahuan di dalam benaknya. Guru dapat memberikan kemudahan untuk proses ini, dengan memberi kesempatan siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide mereka sendiri, dan mengajar siswa menjadi sadar dan secara sadar menggunakan strategi mereka sendiri untutk belajar. Guru dapat memberi siswa anak tangga yang membawa siswa ke pemahaman yang lebih tinggi, dengan catatan siswa sendiri yang harus memanjat anak tangga tersebut”.

Di samping itu kelebihan model pembelajaran ini adalah melatih ketelitian, kecermatan, ketepatan, dan kecepatan. Kekurangan model pembelajaran ini adalah waktu yang cepat dan kurang konsentrasi. Sedangkan kelemahan dari metode ini ialah jika kelas anda termasuk kelas gemuk (lebih dari 30 0rang/kelas) berhati-hatilah. Karena jika anda kurang bijaksana maka yang muncul adalah suasana seperti pasar dengan keramaian yang tidak terkendali. Tentu saja kondisi ini akan mengganggu ketenangan belajar kelas di kiri kanannya. Apalagi jika gedung kelas tidak kedap suara. Tapi jangan khawatir. Hal ini dapat diantisipasi dengan menyepakati beberapa komitmen ketertiban dengan siswa sebelum ‘pertunjukan’ dimulai. Pada dasarnya menendalikan kelas itu tergantung bagaimana kita memotivasinya pada langkah pembukaan. Sedangkan sisi kelemahan yang lain ialah mau tidak mau kita harus meluangkan waktu untuk mempersiapkan kartu-kartu tersebut sebelum masuk ke kelas.

untuk dapat menggunakan model make a match silakan download contoh rpp dengan menggunakan model make a match pada link di bawah ini :
Hasil gambar untuk download

Contoh RPP dan Pengertian Model Pembelajaran Inquiry

Suatu pembelajaran biasanya akan lebih efektif jika suatu pembelajaran tersebut didesain supaya menyenangkan bagi siswa. Salah satunya yait...