Wednesday, January 25, 2017

Perbedaan Guru, Siswa dan Pendidikan Zaman Dulu dan Sekarang



Akhir-akhir ini banyak sekali beredar berita tentang kekerasan yang dilakukan Guru pada siswanya dengan alasan mendidik karena siswa tersebut melanggar aturan Guru atau melanggar aturan sekolah, dan ada juga Guru yang akhirnya mendekam di penjara, alias dipenjarakan murid-muridnya sendiri dengan alasan melanggar HAM, melakukan kekerasan pada siswa bahkan sampai “mencabuli” siswanya sendiri. 

Tidak jauh beda dengan kelakuan siswa yang sering kita tonton di beberapa berita lokal. Banyak siswa suka sekali dengan tawuran, pembunuhan, pemerkosaan. dan masih banyak lagi kejadian-kejadian akhir-akhir ini yang sungguh membuat malu dan mencoreng dunia pendidikan.

Padahal seharusnya dengan adanya pendidikan dapat meminimalisir bahkan menghilangkan beberapa penyimpangan perilaku tersebut.


Contoh sederhana, zaman dulu seorang siswa ketika mau melewati kerumunan atau tempat dimana ada Guru mereka yang sedang duduk, para siswa cenderung takut, malu, dan seringkali mengurungkan niatnya untuk lewat didepan mereka, kalaupun terpaksa lewat didepan para Guru, sopan santunpun dimaksimalkan, dengan mengucap, permisi/ sambil  membungkuk-bungkuk melewatinya, TAPI..... sekarang, jangankan sopan santun yang dimaksimalkan, malah bahasanya KH. Anwar Zahid extrimnya lewat didepan Guru sambil loncat dan kentut.

Itulah mengapa, ilmu yang didapat siswa zaman dulu akan kembali ke siswa dengan manfaat yang luar biasa, ilmunya berkah dan membuat hidupnya bahagia. 

“Sebagian” dari guru zaman sekarang mengajar kurang didasari keikhlasan, tetapi sebagai mata pencaharian untuk mengejar harta dunia. mengajar hanya memenuhi kewajiban pemerintah, supaya tunjangan didapatkan dan kesejahteraan yang akan didapatkan. Mengajar tidak lagi dengan niat membagikan ilmu yang bermanfaat kepada siswa-siswanya.

Pertanyaannya, kenapa terjadi kesenjangan antara siswa dan guru dulu dengan siswa dan guru sekarang? Mari kita bahas bersama.

Note : siswa dan guru zaman dulu kurang lebih tahun 90 ke bawah. Sedangkan siswa dan guru zaman sekarang dari tahun 90 ke atas.

Ada beberapa pendapat yang dikemukakan rekan-rekan guru tentang perbedaan tersebut. Seperti yang di tulis Pak Mudzakkir dalam blognya, Beliau berpendapat bahwa sifat siswa dulu sebagai berikut :
1.      Lebih patuh dan hormat kepada guru, bahkan ketika berjalan dan berbicara senantiasa menjaga kesopanannya.
2.      Ketika diberitahu/dinasehati mendengarkannya dengan seksama.
3.      Lebih perhatian kepada guru, jika ada guru yang sakit, langsung berduyun-duyun ke rumah, walau jaraknya jauh, terkadang sampai urunan/iuran untuk membeli oleh-oleh.
4.      Ketika diperintah guru langsung mendengarkan dan bahkan malu kalau ke sekolah sebelum mengerjakan tugas tersebut
5.      Siswa dulu menganggap guru adalah orang tua sehingga sangat menghormatinya, meskipun guru itu kadang keras
6.      Mengganggap hukuman adalah pelajaran dan konsekwensi dari sebuah kesalahan.


Sedangkan siswa sekarang cenderung bersifat :
1.      kurang menghormati guru bahkan cenderung berani
2.      Ketika diberitahu/dinasehati tidak langsung mendengar bahkan kadang membantah
3.      Kurang perhatian kepada guru, bahkan lebih senang kalau gurunya tidak hadir.
4.      Ketika diperintahkan guru untuk mengerjakan tugas, menggerutu, kalau SD ia meminta tolong kepada orang tua/guru kelasnya
5.      Tidak malu kalau belum mengerjakan tugas
6.      Kalau dihukum/diberitahu malah menantang, bahkan tidak jarang jika dihukum malah senang.
7.      Menganggap guru sebagai teman, bukan orang tua. bahkan tak jarang ada yang panggil bukan sebagai pak guru misalnya dibeberapa sekolah SMA memanggil dengan gurauan

Hal senada juga disampaikan oleh Pak Amin Mungamar di blognya (http://mr.mung.web.id). Beliau mengemukakan pendapat tentang  perbedaan  guru  zaman dulu dengan guru zaman sekarang.  Zaman dulu guru memiliki sifat sebagai berikut :
  1. Guru sangat dihormati, baik oleh murid-muridnya maupun oleh masyarakat disekitarnya. 
  2. Guru masih dianggap sebagai pekerjaan yang mulia dan terpandang. 
  3. Setiap guru datang selalu disambut murid dengan bersalaman dan cium tangan dan murid selalu mematuhi apa yang guru perintahkan alias Sami'na Wa Atho'na (Kami Mendengar dan Kami Taat). 
Sedangkan sekarang, guru cenderung memiliki sifat sebagai berikut :
  1. Guru tidak ada bedanya dengan pekerjaan lainnya, yang orientasinya cenderung ke uang-uang dan uang. 
  2. Guru kurang baik akhlak dan kepribadianya,
  3. Guru kurang dihormati siswanya dan tidak dipatuhi perkataanya
Seperti artikel yang ditulis oleh Link Majaya di Kompasiana, beliau mengatakan :
Pada jaman ini seseorang memilih menjadi guru lebih terdorong oleh hasrat dalam diri untuk membaktikan diri. Ia memahami konsekuensi menjadi guru adalah melayani, dan sudah sadar bahwa ia tidak akan kaya seperti seorang pengusaha. Di era 1980-n seorang guru yang mempunyai kemampuan lebih bisa memberikan les privat di luar jam sekolah, itu adalah pemasukan tambahan selain gaji pokok sebagai seorang guru. Ada juga yang membuka warung kecil-kecilan untuk menambah lauk di rumah. Belum lagi di daerah terpencil, tenaga mereka dihargai dengan hasil ladang orang tua murid. Maka di jaman itu kita sering mendengar istilah: “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.”

baca juga : macam-macam model pendidikan untuk sekolah dasar

Guru pada jaman itu merupakan suatu profesi yang sangat terhormat, karena dianggap memiliki pengetahuan lebih daripada masyarakat setempat. Masyarakat juga menuntut para guru mengajarkan nilai moral kepada anak-anak mereka, di samping pengetahuan baca tulis dan berhitung.Guru juga punya hak otoriter sebagai pengganti orang tua bila anak berada di sekolah.Cara mendidik mereka lebih banyak menggunakan pendekatan pribadi yang membuat interaksi guru murid lebih erat. Hal ini terbawa sampai di luar jam sekolah karena kondisi sosial masyarakat jaman dulu yang lebih bersifat kekeluargaan.

Perekrutan tenaga pendidik sekarang lebih mengutamakan nilai kelulusan yang dimiliki guru tersebut. Apakah guru tersebut sudah pasti kompeten mengajar dengan kelulusan yang bernilai tinggi? Belum tentu. (Maaf, tidak ada sedikit pun maksud saya untuk menyamaratakan dedikasi dan porensi semua guru). Namun sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sekolah-sekolah yang ingin merekrut guru di samping pengalaman minimal 1 atau 2 tahun juga meminta bukti berupa sertikat yang dimiliki guru tersebut sebagai bukti bahwa ia mempunyai ‘skill’ lebih. Tuntutan ekonomi membuat dedikasi mengajar sebagai suatu pelayanan menjadi berkurang. Bisa dimaklumi karena media apapun sekarang berlomba menawarkan barang konsumsi. Guru juga seorang manusia, ia punya keluarga yang harus dihidupi. Di jaman sekarang tuntutan ekonomi seakan tidak pernah habis, malah selalu naik setiap tahunnya.

Cara mendidik guru sekarang juga sangat jarang menggunakan pendekatan pribadi lagi. Wibawa seorang guru tidak lagi dianggap sebagai pihak otoriter yang mesti disegani, dipanuti. Murid menganggap guru mengajar hanya menjalankan kewajiban, interaksi guru-siswa terbatas pada jam sekolah. Masyarakat sekarang yang lebih mengarah ke individualis, terutama di kota-kota besar, membuat interaksi personal semakin berkurang. (Sekali lagi maaf…ini kecenderungan yang terlihat menonjol di masyarakat kita). Apakah hal ini merupakan efek domino dari tuntutan jaman atau sistem pemerintahan kita dalam menyusun kurikulum? (sumber : kompasiana)

Hal tersebut ditanggapi oleh Robert Tampoe (http://www.kompasiana.com/sarbutmataniari)  Aku jadi teringat pada kondisi dunia pendidikan pada masa dulu. Saya ambil contoh yang paling sederhana tapi benar-benar positif. Guru pada masa dulu benar-benar disegani oleh muridnya. Sebaliknya, murid masa dulu benar-benar aktif belajar. Murid masa dulu paling takut jika tidak mengerjakan PR, tapi murid masa sekarang? Mana peduli. “Emang gue pikirin” ,katanya.Guru masa dulu jika memberikan ganjaran terhadap muridnya tidak pernah sekali pun orang tuanya protes! Sekarang? Jangan coba-coba kalau tidak ingin berurusan dengan hukum. Untuk menegakkan disiplin saja pun guru sekarang tak kuasa karena takut berurusan dengan hukum.Akhirnya, mana ada wibawa guru sekarang?”

Tidak hanya guru dan siswa, pendidikan di Indonesia pun memiliki perbedaan antara pendidikan dulu (tahun 90an kebawah) dan sekarang (tahun 90an keatas). Perbedaan yang terlihat jelas dapat kita lihat pada kurikulum yang berubah-ubah. Mulai dari kurikulum 1947 yang dalam bahasa belanda disebut leer plan artinya rencana pelajaran yang bersifat politis dan berasaskan Pancasila,  Sampai kurikulum yang belum secara merata digunakan di setiap sekolah yaitu kurikulum 2013 yang (katanya) merupakan kurikulum hasil dari penyempurnaan dari kurikulum yang terdahulu. Walaupun belum terlihat jelas bagaimana wujud aslinya (sumber : blog gurungapak)

Sebelum membuat postingan ini saya juga sempat meminta pendapat dari teman-teman guru di media sosial.

Seperti pendapat dari Ustadzah Dinda yang mengajar di salah satu SD IT di Kapuas. Beliau berpendapat bahwa guru dulu hanya bermodalkan sebuah sepeda ontel (sepeda zaman dulu) karena kecilnya gaji guru seperti lagunya iwan fals yang berjudul Oemar Bakrie. Walaupun mungkin karena saat itu belum ada kendaraan seperti sekarang. Tetapi guru dulu mengajar dengan ikhlas sehingga dapat menjadi panutan bagi siswa-siswanya.  Sedangkan guru sekarang cenderung lebih mementingkan “gengsi” daripada keikhlasan mengajar. Ada yang gengsi kalau pergi mengajar tidak menggunakan mobil dan sebagainya. Guru lama mungkin niat satu-satunya pada waktu itu bagaimana caranya agar siswa bisa membaca dan berhitung. Yang menjadi guru pun pendidikannya hanya sebatas tamatan SMA atau sederajat. Namun berhasil menjadikn siswa-siswinya sukses dengan akhlak dan sopan santun yang luar biasa. Guru sekarang tujuan utama kemungkinan hanya sekedar pekerjaan, mengisi waktu luang, menambah penghasilan. Karena ada pepatah mengatakan segala sesuatu yang dimulai dengan niat, maka pada akhirnya apa yang kita niatkn dari awal itulah hasilnya. Siswa zaman dulu lebih bermoral dan berakhlak, wajar karena didikan dari awal gurunya dan orang tua ikut andil. Apapun yang di lakukan gurunya disekolah terhadap anaknya. Orang tua ikhlas menerima bahkan pulang kerumah malah dinasehati lagi dan membenarkan tindakan gurunya. Siswa sekarang memiliki akhlak yang kurang, wajar karena pertama pengaruh media sangat luas mulai dari akses internet, sinetron, hingga game pun sdh mulai merusak tatanan akhlak. Ditambah lagi ketika guru berusaha menegur malah dianggap remeh bahkan dianggap tindak penganiayaan dan didukung oleh orang tua yang sampai berani melaporkan gurunya ke polisi. Bagaimanapun juga suksesnya siswa tidak luput dari peran lingkungan keluarga dan sekolah.

Ibu Mia Rhadiana juga berpendapat tentang guru dulu yang mempunyai niat untuk mendidik siswa dengan target supaya anak didik menjadi pintar serta memiliki akhlak dan moral. Hal tersebu membuat siswa zaman dulu lebih bermoral. Contohnya ketika siswa bertemu guru langsung cium tangan dan member salam. Sedangkan guru sekarang cenderung lebih mengejar pangkat dan sertifikasi.  Sehingga siswanya mengalami krisis moral yang mengakibatkan tumbuhnya sifat acuh tak acuh bila bertemu dengan guru.
Hal senada juga dikatakan Bapak Muhammad Aminullah  yang mengajar di daerah marabahan dalam komentarnya. Beliau mengatakan “Guru zaman dulu utamanya adalah seorang pendidik moral dan karakter peserta didik yang tangguh, disegani sekaligus "ditakuti" siswa. guru zaman sekarang lebih kepada fasilitator belajar serta pemberi informasi pengetahuan. Begitu juga dengan siswa zaman dulu secara garis besarnya adalah para pembelajar yang "penurut" serta tekun dan patuh pada segala aturan yang ada, berakhlak dan moral yang baik.. sedangkan siswa zaman sekarang adalah peserta didik yang mendapatkan pengetahuan dan informasi yang banyak (dari intern dan ekstern sekolah) namun penanaman nilai dan moral masih perlu diusahakan lebih giat lagi. yang tujuannya untuk memfilter globalisasi yang terus menggerus kearifan dari bangsa ini. Pendidikan dulu berorientasi pada karakter dan moral, sedangkan pendidikan zaman sekarang lebih bersifat pragmatis, condong mengutamakan angka dan rangking namun lemah di penanaman nilai dan karakter”.

Berbeda dengan pendapat di atas, Bapak Teguh yang mengajar di daerah Bangka Belitung. “Pada dasarnya, guru, murid dan pendidikan itu semua sama tidak ada perbedaan. Namun dikarenakan beralihnya zaman yang membawa banyak perubahan dan menuntut akan adanya perubahan sistem maka dilakukanlah perubahan pada semua bagian pendidikan demi menyesuaikan visi misi pendidikan yang dibangun pendiri bangsa pada masa sekarang. Namun, yang sangat disayangkan semakin majunya zaman turut serta membawa efek negatif yang tidak bisa disadari dan disaring oleh bagian dari semua elemen pelaksana pendidikan itu sndri, baik itu pendidik, peserta didik, lingkungn keluarga maupun masyarakat hingga menciptakan berbagai gejala sosial. Kalau boleh dikatakn : jika musuhnya kuat maka jagoannya harus lebih kuat dan dikarenakan kita ditakdirkan menjadi bagian itu maka harus siap sedia. Jangn menutup panca indera namun harus lebih peka serta fleksibel agar dapat terus tampil, berkarya, berkreatif dan beradaptasi di segala bidang pendidikan. Dulu saya pernah mengatakan " dimanapun kita bisa belajar, Karena setiap tempat adalah sekolah, siapapun yang kita temui adalah guru kita yang pastinya memberikan pengetahuan baru bagi kita”.

Ustadzah Norina pun ikut berpendapat,  beliau memiliki pengalaman pribadi yang ingin dibagikan kepada rekan-rekan guru seluruh Indonesia. “Semakin maju zaman, semakin sulit tantangan kedepan, apalagi masalah murid. Murid sekarang hebat-hebat, bahkan mungkin lebih hebat dari gurunya. Anak murid sudah terbiasa dengan internet dan media sosial lainnya. sedangkan gurunya masih banyak yang “gaptek”, sehingga kadang muridnya merasa lebih hebat dari guru sehingga berani pada guru. Kalau murid zaman dulu, mereka sangat haus akan ilmu pengetahun. Yang menjadi pak “google” mereka dulu adalah gurunya. Jadi murid menjadi mudah patuh pada perkataan guru tanpa banyak protes. Sekarang yang dipikiran guru hanya bagaimana membuat RPP seideal mungkin, mengajar sehebat mungkin. dari pikiran administrasi yg banyak menyita waktu daripada mengajar hingga masalah anak terkesampingkan. belum lagi masalah anak sendiri dirumah. Kalau guru dulu mengajarnya dengan hati dan senang tanpa beban administrasi, hingga semua muridnya terperhatikan dengan baik.”

Kesimpulannya, dari setiap zaman yang berbeda pasti selalu ada perbedaan baik tentang guru, siswa, maupun pendidikan itu sendiri. Apakah perbedaan itu mengarah ke positif ataupun kearah negatif. Hal tersebut menjadi tanggung jawab kita bersama, bukan hanya tanggung jawab guru, siswa, maupun pemerintah. Tapi tanggung jawab dari semua elemen masyarakat. 

Mudah-mudahan dengan adanya postingan ini menjadi salah satu cara kita untuk sama-sama memperberbaiki kesalahan-kesalahan kita agar terciptanya pendidikan yang maju.

Thursday, January 19, 2017

Contoh RPP Model Numbered Heads Together (NHT) dan Langkah-Langkahnya



Salah satu masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah lemahnya proses pembelajaran. Proses pembelajaran di sekolah kurang meningkatkan kreatifitas siswa. Masih banyak tenaga pendidik yang menggunakan metode konvensional secara monoton dalam kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga suasana belajar terkesan kaku dan suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif dan keaktifan hanya didominasi oleh seorang guru

Saat ini apakah anda berprofesi sebagai guru atau pendidik? Jika iya cobalah anda sekilas mengenang masa-masa ketika anda masih duduk dibangku sekolah, baik SD, SMP maupun SMA.


Pernahkah anda merasa bosan saat anda mengikuti jam pelajaran dikelas anda? Mungkin anda merasa tertekan? Atau mungkin anda sulit menerima materi pelajaran dikelas saat guru anda sedang memeri materi?
Sekarang cobalah anda berfikir, apakah siswa anda merasakan hal yang sama dengan yang anda rasakan tersebut? Mudah-mudahan siswa-siswa anda tidak merasakan hal-hal negatif saat Proses pembelajaran yang anda laksanakan berlangsung.

Namun perlu anda ketahui jika anda saat menyampaikan materi menggunakan model pembelajaran yang tidak disukai siswa maka tidak menutup kemungkinan siswa anda akan bosan saat mengikuti jam pelajaran anda, lalu bagaimana solusi

agar pembelajaran anda disukai siswa-siswa dan kedatangan anda dinanti-nanti siswa anda?

Banyak faktor sebenarnya, namun salah satu faktor tersebut adalah penggunaan model pembelajaran yang menyenangkan dan mampu membuat siswa merasakan dirinya dihargai kemampuannya.

Jadi pada intinya seorang guru harus kreatif dalam menerapkan model pembelajaran yang tepat dan bervariasi antara materi satu dengan materi lainnya, mengapa?

Karena tidak semua model pembelajaran efektif untuk semua materi, ada kalanya terdapat materi yang cocok diterapkan dengan model pembelajaran X namun tidak cocok diterapkan untuk materi lainnya.

Salah satu model pembelajaran yang dapat anda terapkan di sekolah dasar adalah model Number Head Together (NHT) atau model  Kepala Bernomor Terstruktur. Apa pengertian model NHT? Bagaimana langkah-langkahnya penerapannya? Mari kita simak penjelasan di bawah ini.

A.    Pengertian Model NHT
Kepala bernomor terstruktur merupakan salah satu dari metode kooperatif learning yang merupakan pengembangan dari metode Number Head Together. Pembelajaran kooperatif itu sendiri bergantung pada kelompok-kelompok kecil si pelajar. Meskipun isi dan petunjuk yang diberikan oleh pengajar mencirikan bagian dari pengajaran, namun pembelajaran kooperatif secara berhati-hati menggabungkan kelompok-kelompok kecil sehingga anggota-anggotanya dapat bekerja bersama-sama untuk memaksimalkan pembelajaran dirinya dan pembelajaran satu sama lainnya. Masing-masing anggota kelompok bertanggung jawab untuk mempelajari apa yang disajikan dan membantu teman anggotanya untuk belajar. Ketika kerja sama ini berlangsung tim menciptakan atmosfir pencapaian dan selanjutnya pembelajaran ditingkatkan (Karen L Medsker and Kristina M, Holdworth. 2016 :287)

Menurut Muhammad Nur (2005) model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok dengan ciri khasnya adalah guru hanya menunjuk seorang siswa yang mewakili kelompoknya tanpa memberitahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompoknya tersebut. Sehingga cara ini menjamin keterlibatan total semua siswa. Cara ini upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam dalam diskusi kelompok. Namun adapun perbedaan yang mendasar antara kedua model ini adalah, Pada pembelajaran Numbered Heads Together Structure ini, siswa dikelompokkan dengan diberi nomor dan setiap nomor mendapat tugas berbeda dan nantinya dapat bergabung dengan kelompok lain yang bernomor sama untuk bekerjasama. Sedangkan Numbered Heads Together, guru hanya memanggil salah satu siswa untuk masuk kedepan dan melaporkan hasil kerjasama kelompoknya.

Model pembelajaran kepala Bernomor Struktur diartikan sebagai sebuah model belajar dimana para siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok kecil dan diberikan nomor, masing-masing nomor siswa tersebut diberikan tugas yang tidak sama dan nantinya setiap siswa yang nomornya sama dapat bergabung dengan kelompok lain untuk melakukan kerja sama.

Model NHT memiliki tiga tujuan yang diharapkan tercapai dalam pembelajaran seperti yang dikemukakan oleh Muhammad Nur (2005), yaitu :
1)    Hasil belajar akademik struktural, ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik,
2)  Pengakuan adanya keragaman, ini bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya dalam tugas-tugas akademik.
3)      Pengembangan keterampilan social, ini bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa.

Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja sama dalam kelompok dan sebagainya.

Menurut Lie (1999) pembelajaran ini mendorong siswa untuk meningkatkan semangat kerja sama mereka. Tekni ini dapat diberikan pada semua mata pelajaran dan berbagai tingkat usia.

B.     Langkah-langkah Penerapan Model Pembelajaran Numbered Heads Together Structure
Apabila anda ingin mempraktikan model pembelajaran ini, maka anda dapat mengikuti langkah-langkah dalam model pembelajaran kepala bernomor struktur berikut ini :
1)      Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
2)    Guru membentuk siswa menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing siswa dalam setiap kelompoknya diberikan nomor
3)      Guru memberikan tugas untuk semua siswa sesuai dengan nomor yang dimiliki siswa, dan tugas tersebut berangkai. Sebagai Contoh : siswa yang memiliki nomor satu bertugas untuk mencatat soal. Siswa yang memiliki nomor dua bertugas untuk mengerjakan soal dan siswa yang memiliki nomor tiga bertugas untuk melaporkan hasil pekerjaan begitu seterusnya
4)      Guru dapat menyuruh siswa kerja sama antar kelompok jika hal tersebut dipandang perlu, adapun teknisnya adalah siswa disuruh keluar dari kelompoknya dan bergabung bersama beberapa siswa yang memiliki nomor yang sama dari keompok lain. Pada kesempatan ini para siswa dengan tugas yang sama diberikan keleluasaan untuk dapat saling membantu ataupun mencocokan hasil kerjasama yang telah mereka lakukan.
5)      Melaporkan hasil kerja kelompok dan pemberian tanggapan dari kelompok yang lain
6)      Kesimpulan

Namun seperti yang sudah dipaparkan di atas, tidak semua model pembelajaran sesuai dengan materi pelajaran tertentu. Model pembelajaran NHT juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari model NHT antara lain :
1)      Setiap siswa menjadi siap semua.
2)      Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
3)      Mengembangkan rasa saling memiliki dan kerjasama.
4)      Dapat bertukar pikiran dengan siswa yang lain.
5)      Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
6)      Menghilangkan kesenjangan antara yang pintar dengan tidak pintar.
Sedangkan kekurangannya antara lain :
1)      Guru tidak mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
2)      Waktu yang dibutuhkan semestinya banyak.
3)      Ada siswa yang takut diintimidasi bila Memberi nilai jelek kepada anggotanya (bila kenyataannya siswa lain kurang mampu menguasai materi)
4)      Ada siswa yang mengambil jalan pintas dengan meminta tolong pada temannya untuk mencarikan jawabnya, akibatnya mengurangi poin pada siswa yang membantu dan dibantu .
5)      Apabila pada satu nomer kurang maximal mengerjakan tugasnya, tentu saja mempengaruhi pekerjaan pemilik tugas lain pada nomer selanjutnya.

Bagi anda yang ingin mengetahui lebih jelas tentang susunan rencana pembelajaran dengan menggunakan model NHT silakan download contoh RPP dengan model NHT pada link di bawah ini :

RPP I 
RPP 2
RPP 3

Sumber : 

Friday, January 13, 2017

RPP dengan Model Student Teams Achievement Division (STAD) Lengkap dengan Penjelasannya



Salah satu cara agar kegiatan pembelajaran menjadi efektif adalah dengan menggunakan model pembelajaran. Untuk yang belum tahu apa itu model pembelajaran dan macam-macamnya silakan klik link di bawah ini :

Macam-Macam Model Pembelajaran Untuk Sekolah Dasar

Student Teams Achievement Division (STAD) merupakan salah satu metode atau pendekatan dalam pembelajaran kooperatif yang sederhana dan baik digunakan guru karena dapat meningkatkan keefektifan kegiatan belajar di dalam kelas.

Model pembelajaran STAD termasuk model pembelajaran kooperatif. Semua model pembelajaran kooperatif ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan. Dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatifsiswa didorong untuk bekerjasama pada suatu tugas bersama dan mereka harus mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah prestasi belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial.

Menurut Robert E. Slavin, “The main idea behind Students Team – Achievment Divisions is to motivate students to encourage and help each other master skills presented by the teacher ”. yang artinya kurang lebih seperti ini “Gagasan utama dari STAD adalah untuk memotivasi peserta didik supaya dapat saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam menguasai kemampuan yang diajarkan guru”.  

Slavin ( dalam Wina,2008:242) mengemukakan dua alasan bahwa :  pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran yang dapat memperbaiki pembelajaran selama ini. Pertama,beberapa penelitian membuktikan bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa sekaligus dapat menngkatkan kemampuan hubungan sosial,menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain,serta dapat meningkatkan harga diri. kedua,pembelajaran kooperatif dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar,berfikir,memecahkan masalah dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan.

Students Team Achievment Divisions (STAD) dikembangkan oleh Robert E. Slavin dari Johns Hopkins University Berinduk pada kajian beberapa metode yang ia namakan Students Team Learning (STL) tahun 1980-an. STAD tersusun dari lima komponen utama, yaitu :

1) Presentasi kelas (class presentation)
Bentuk presentasi kelas dapat berupa pengajaran langsung (dirrect instruction), kelas diskusi (a lecture-discussion) yang dikondisikan langsung oleh guru dan juga presentasi audio-visual. Presentai kelas di STAD berbeda dari pengajaran biasanya. Peserta didik harus memberikan perhatian penuh selama presentasi kelas,
sebab akan membantu mereka untuk menjawab kuis dengan baik nantinya, dan skor kuisnya akan menentukan skor timnya. 

2) Grup atau tim (teams)
Grup adalah hal yang amat penting dalam STAD. Dalam banyak hal, penekanan diberikan pada setiap anggota grup (team members) untuk melakukan sesuatu yang terbaik buat grupnya. Sebaliknya, pentingnya peranan sebuah grup adalah melakukan hal yang terbaik dalam membantu meningkatkan kemampuan setiap anggotanya. Grup memberikan bantuan dari teman sebaya (peer support) untuk meningkatkan pemahaman atau kemampuan akademik (academic performance). 

3) Kuis (quizzes)
Setelah satu atau dua periode pengajaran (teacher presentation) dan satu atau dua periode grup melakukan praktek (atau diskusi memecahkan permasalahan), murid mengambil kuis pribadi (individual quizzes). Peserta didik “tidak diijinkan” untuk saling membantu selama mengerjakan kuis pribadi ini, hal ini dimaksudkan untuk menjamin agar setiap peserta didik memiliki tanggung jawab untuk benar-benar memahami materi pelajaran. 

4) Peningkatan skor individual (individual improvement scores)
Gagasan yang berada dibalik ide tentang “peningkatan skor individual” adalah memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mencapai tingkat kemampuan (performance goal) yang lebih tinggi dari yang telah dicapai sebelumnya. Beberapa peserta didik dapat menyumbangkan point maksimum (maximum point) pada grupnya dalam sistem penskoran STAD apabila mereka menunjukkan peningkatan yang berarti dibanding kemampuannya yang lalu. Setiap peserta didik diberikan “skor dasar” (base score) berdasarkan rata-rata skor kuis sebelumnya. Points yang bisa disumbangkan untuk grupnya didasarkan pada berapa besar sekor kuisnya melampaui atau berada di bawah “skor dasar”-nya.  

5) Penghargaan grup (team recognition)
Grup akan menerima penghargaan jika rata-rata skor mereka memenuhi atau melampaui kriteria tertentu.
Baca juga : Pengertian, Langkah-Langkah dan Contoh RPP Model Pembelajaran Role Playing
Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri lima komponen utama, yaitu penyajian kelas, belajar kelompok, kuis, skor pengembangan dan penghargaan kelompok. Selain itu STAD juga terdiri dari siklus kegiatan pengajaran yang teratur.
Apabila seorang guru ingin menggunakan model STAD alangkah baiknya jika mengetahui persiapan sebelum melakukan pembelajaran. Seperti yang dikatakan Amin Suyitno (2001) Hal-hal yang perlu disiapkan guru sebelum memulai model pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu :
  1. Menyusun data nilai harian peserta didik yang digunakan sebagai pedoman untuk membentuk kelompok peserta didik yang heterogen dengan menghitung skor rata-rata suatu kelompok; 
  2. Guru membentuk kelompok peserta didik yang heterogen terdiri 4 sampai 5 peserta didik dengan latar belakang yang berbeda tanpa membedakan kecerdasan, suku, bangsa maupun agama; 
  3. Guru mempersiapkan LKS untuk belajar peserta didik dan bukan sekedar diisi dan dikumpulkan; 
  4. Guru juga menyiapkan kunci jawaban LKS untuk mengecek pekerjaan peserta didik (dicek oleh peserta didik sendiri); 
  5. Kuis, berupa tes singkat untuk seluruh peserta didik dengan waktu 10-15 menit; dan 
  6. Membuat tes/ulangan untuk melihat ketercapaian hasi belajar yang diharapkan; 
Baca juga : Pengertian, Langkah-Langkah dan Contoh RPP Model Pembelajaran Talking Stick

Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD dalam pembelajaran di sekolah adalah sebagai berikut.
  1. Guru meminta peserta didik untuk mempelajari suatu pokok bahasan yang segera akan dibahas, di rumah masing-masing; 
  2. Di kelas, guru membentuk kelompok belajar yang heterogen dan mengatur tempat duduk peserta didik agar setiap anggota kelompok dapat saling bertatap muka; 
  3. Guru dapat mengawali dengan presentasi materi terlebih dahulu, sebelum peserta didik berdiskusi;  
  4. Guru membagi LKS pada tiap kelompok, masing-masing kelompok diberi 2 set; 
  5. Guru menganjurkan setiap peserta didik dalam kelompok untuk mengerjakan LKS secara berpasangan dua-dua atau tiga-tiga. Kemudian saling mengecek pekerjaannya di antara teman dalam pasangan tersebut; 
  6. Berikan kunci LKS agar peserta didik dapat mengecek pekerjaannya sendiri; 
  7. Bila ada pertanyaan dari peserta didik, guru meminta peserta didik untuk pertanyaan itu kepada teman satu kelompok sebelum mengajukan kepada guru;  
  8. Guru berkeliling untuk mengawali kinerja kelompok; 
  9. Ketua kelompok melaporkan keberhasilan dan hambatan kelompoknya kepada guru dalam mengisi LKS, sehingga guru dapat memberi bantuan kepada kelompok yang membutuhkan secara proporsional; 
  10. Ketua kelompok harus dapat memastikan bahwa setiap anggota kelompok telah memahami dan dapat mengerjakan LKS yang diberikan guru;  
  11. Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilitator jika diperlukan; 
  12. Setelah selesai mengerjakan LKS secara tuntas, berikan kuis kepada seluruh peserta didik; 
  13. Berikan penghargaan kepada peserta didik yang menjawab dengan benar, dan kelompok yang memperoleh skor tertinggi, kemudian berilah pengakuan/pujian kepada presentasi tim; 
  14. Guru memberikan tugas/PR secara individual kepada para peserta didik tentang pokok bahasan yang sedang dipelajari; 
  15. Guru membubarkan kelompok yang dibentuk dan para peserta didik kembali ke tempat duduk masing-masing; dan  
  16. Guru dapat memberikan tes formatif, sesuai dengan TPK (kompetensi yang ditentukan). 
Untuk lebih lengkap silakan download contoh RPP dengan menggunakan model STAD pada link di bawah postingan ini. Atau ingin melihat secara langsung kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model STAD klik link video di bawah ini :



Mudah bukan, saya yakin rekan-rekan sekalian bisa menggunakan model pembelajaran STAD dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah masing-masing.

Keuntungan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD menurut Linda Lundgren dan Nur  dalam Ibrahim adalah sebagai berikut. 
  1. Meningkatkan kerja sama, kebaikan budi, kepekaan dan toleransi yang tinggi antar sesama anggota kelompok; 
  2. Meningkatkan pencurahan waktu pada tugas; 
  3. Meningkatkan harga diri dan dapat memperbaiki sikap ilmiah terhadap matematika; 
  4. Memperbaiki kehadiran peserta didik;  
  5. Penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar;                                        
  6. Konflik pribadi menjadi berkurang;
  7. Meningkatkan pemahaman pada materi pelajaran;
  8. Apabila mendapat penghargaan, motivasi belajar peserta didik akan menjadi lebih besar; dan 
  9. Hasil belajar lebih tinggi. 
Namun, Pembelajaran STAD juga memiliki kekurangan seperti yang disampaikant Ibrahim, kekurangan pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut.
  1. Apabila tidak ada kerja sama dalam satu kelompok dan belum bisa menyesuaikan diri dengan anggota kelompok yang lain maka tugas tidak bisa selesai pada waktu yang sudah ditentukan; 
  2. Apabila salah satu anggota berperilaku menyimpang akan mempengaruhi dan mengganggu anggota kelompok lainnya; 
  3. Bila situasi kelas gaduh waktu pelaksanaan diskusi maka akan mengganggu kelas lain; 
  4. Ketidakhadiran salah satu anggota dalam kelompok akan mempengaruhi kinerja dalam kelompok tersebut; 
  5. Apabila peserta didik tidak menggunakan waktu dalam diskusi dengan baik maka kelompok tersebut tidak bisa menyelesaikan tugas tepat pada waktunya; 
  6. Peserta didik yang mencapai kinerja yang tinggi keberatan bila skor disamakan dengan peserta didik yang kinerjanya rendah karena menggunakan sistem skor perbaikan individual; 
  7. Beban kerja guru menjadi lebih banyak; 
  8. Jika aktivitas peserta didik dalam kelompok monoton maka motivasi belajar peserta didik akan turun; 
  9. Apabila pemahaman materi dalam diskusi belum sempurna maka hasil belajar akan menurun.
Bagi rekan-rekan yang ingin mengetahui contoh RPP dengan menggunakan model STAD silakan klik pada salah satu link di bawah ini :
Sumber:

Contoh RPP dan Pengertian Model Pembelajaran Inquiry

Suatu pembelajaran biasanya akan lebih efektif jika suatu pembelajaran tersebut didesain supaya menyenangkan bagi siswa. Salah satunya yait...