Wednesday, January 25, 2017

Perbedaan Guru, Siswa dan Pendidikan Zaman Dulu dan Sekarang



Akhir-akhir ini banyak sekali beredar berita tentang kekerasan yang dilakukan Guru pada siswanya dengan alasan mendidik karena siswa tersebut melanggar aturan Guru atau melanggar aturan sekolah, dan ada juga Guru yang akhirnya mendekam di penjara, alias dipenjarakan murid-muridnya sendiri dengan alasan melanggar HAM, melakukan kekerasan pada siswa bahkan sampai “mencabuli” siswanya sendiri. 

Tidak jauh beda dengan kelakuan siswa yang sering kita tonton di beberapa berita lokal. Banyak siswa suka sekali dengan tawuran, pembunuhan, pemerkosaan. dan masih banyak lagi kejadian-kejadian akhir-akhir ini yang sungguh membuat malu dan mencoreng dunia pendidikan.

Padahal seharusnya dengan adanya pendidikan dapat meminimalisir bahkan menghilangkan beberapa penyimpangan perilaku tersebut.


Contoh sederhana, zaman dulu seorang siswa ketika mau melewati kerumunan atau tempat dimana ada Guru mereka yang sedang duduk, para siswa cenderung takut, malu, dan seringkali mengurungkan niatnya untuk lewat didepan mereka, kalaupun terpaksa lewat didepan para Guru, sopan santunpun dimaksimalkan, dengan mengucap, permisi/ sambil  membungkuk-bungkuk melewatinya, TAPI..... sekarang, jangankan sopan santun yang dimaksimalkan, malah bahasanya KH. Anwar Zahid extrimnya lewat didepan Guru sambil loncat dan kentut.

Itulah mengapa, ilmu yang didapat siswa zaman dulu akan kembali ke siswa dengan manfaat yang luar biasa, ilmunya berkah dan membuat hidupnya bahagia. 

“Sebagian” dari guru zaman sekarang mengajar kurang didasari keikhlasan, tetapi sebagai mata pencaharian untuk mengejar harta dunia. mengajar hanya memenuhi kewajiban pemerintah, supaya tunjangan didapatkan dan kesejahteraan yang akan didapatkan. Mengajar tidak lagi dengan niat membagikan ilmu yang bermanfaat kepada siswa-siswanya.

Pertanyaannya, kenapa terjadi kesenjangan antara siswa dan guru dulu dengan siswa dan guru sekarang? Mari kita bahas bersama.

Note : siswa dan guru zaman dulu kurang lebih tahun 90 ke bawah. Sedangkan siswa dan guru zaman sekarang dari tahun 90 ke atas.

Ada beberapa pendapat yang dikemukakan rekan-rekan guru tentang perbedaan tersebut. Seperti yang di tulis Pak Mudzakkir dalam blognya, Beliau berpendapat bahwa sifat siswa dulu sebagai berikut :
1.      Lebih patuh dan hormat kepada guru, bahkan ketika berjalan dan berbicara senantiasa menjaga kesopanannya.
2.      Ketika diberitahu/dinasehati mendengarkannya dengan seksama.
3.      Lebih perhatian kepada guru, jika ada guru yang sakit, langsung berduyun-duyun ke rumah, walau jaraknya jauh, terkadang sampai urunan/iuran untuk membeli oleh-oleh.
4.      Ketika diperintah guru langsung mendengarkan dan bahkan malu kalau ke sekolah sebelum mengerjakan tugas tersebut
5.      Siswa dulu menganggap guru adalah orang tua sehingga sangat menghormatinya, meskipun guru itu kadang keras
6.      Mengganggap hukuman adalah pelajaran dan konsekwensi dari sebuah kesalahan.


Sedangkan siswa sekarang cenderung bersifat :
1.      kurang menghormati guru bahkan cenderung berani
2.      Ketika diberitahu/dinasehati tidak langsung mendengar bahkan kadang membantah
3.      Kurang perhatian kepada guru, bahkan lebih senang kalau gurunya tidak hadir.
4.      Ketika diperintahkan guru untuk mengerjakan tugas, menggerutu, kalau SD ia meminta tolong kepada orang tua/guru kelasnya
5.      Tidak malu kalau belum mengerjakan tugas
6.      Kalau dihukum/diberitahu malah menantang, bahkan tidak jarang jika dihukum malah senang.
7.      Menganggap guru sebagai teman, bukan orang tua. bahkan tak jarang ada yang panggil bukan sebagai pak guru misalnya dibeberapa sekolah SMA memanggil dengan gurauan

Hal senada juga disampaikan oleh Pak Amin Mungamar di blognya (http://mr.mung.web.id). Beliau mengemukakan pendapat tentang  perbedaan  guru  zaman dulu dengan guru zaman sekarang.  Zaman dulu guru memiliki sifat sebagai berikut :
  1. Guru sangat dihormati, baik oleh murid-muridnya maupun oleh masyarakat disekitarnya. 
  2. Guru masih dianggap sebagai pekerjaan yang mulia dan terpandang. 
  3. Setiap guru datang selalu disambut murid dengan bersalaman dan cium tangan dan murid selalu mematuhi apa yang guru perintahkan alias Sami'na Wa Atho'na (Kami Mendengar dan Kami Taat). 
Sedangkan sekarang, guru cenderung memiliki sifat sebagai berikut :
  1. Guru tidak ada bedanya dengan pekerjaan lainnya, yang orientasinya cenderung ke uang-uang dan uang. 
  2. Guru kurang baik akhlak dan kepribadianya,
  3. Guru kurang dihormati siswanya dan tidak dipatuhi perkataanya
Seperti artikel yang ditulis oleh Link Majaya di Kompasiana, beliau mengatakan :
Pada jaman ini seseorang memilih menjadi guru lebih terdorong oleh hasrat dalam diri untuk membaktikan diri. Ia memahami konsekuensi menjadi guru adalah melayani, dan sudah sadar bahwa ia tidak akan kaya seperti seorang pengusaha. Di era 1980-n seorang guru yang mempunyai kemampuan lebih bisa memberikan les privat di luar jam sekolah, itu adalah pemasukan tambahan selain gaji pokok sebagai seorang guru. Ada juga yang membuka warung kecil-kecilan untuk menambah lauk di rumah. Belum lagi di daerah terpencil, tenaga mereka dihargai dengan hasil ladang orang tua murid. Maka di jaman itu kita sering mendengar istilah: “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.”

baca juga : macam-macam model pendidikan untuk sekolah dasar

Guru pada jaman itu merupakan suatu profesi yang sangat terhormat, karena dianggap memiliki pengetahuan lebih daripada masyarakat setempat. Masyarakat juga menuntut para guru mengajarkan nilai moral kepada anak-anak mereka, di samping pengetahuan baca tulis dan berhitung.Guru juga punya hak otoriter sebagai pengganti orang tua bila anak berada di sekolah.Cara mendidik mereka lebih banyak menggunakan pendekatan pribadi yang membuat interaksi guru murid lebih erat. Hal ini terbawa sampai di luar jam sekolah karena kondisi sosial masyarakat jaman dulu yang lebih bersifat kekeluargaan.

Perekrutan tenaga pendidik sekarang lebih mengutamakan nilai kelulusan yang dimiliki guru tersebut. Apakah guru tersebut sudah pasti kompeten mengajar dengan kelulusan yang bernilai tinggi? Belum tentu. (Maaf, tidak ada sedikit pun maksud saya untuk menyamaratakan dedikasi dan porensi semua guru). Namun sudah menjadi pengetahuan umum bahwa sekolah-sekolah yang ingin merekrut guru di samping pengalaman minimal 1 atau 2 tahun juga meminta bukti berupa sertikat yang dimiliki guru tersebut sebagai bukti bahwa ia mempunyai ‘skill’ lebih. Tuntutan ekonomi membuat dedikasi mengajar sebagai suatu pelayanan menjadi berkurang. Bisa dimaklumi karena media apapun sekarang berlomba menawarkan barang konsumsi. Guru juga seorang manusia, ia punya keluarga yang harus dihidupi. Di jaman sekarang tuntutan ekonomi seakan tidak pernah habis, malah selalu naik setiap tahunnya.

Cara mendidik guru sekarang juga sangat jarang menggunakan pendekatan pribadi lagi. Wibawa seorang guru tidak lagi dianggap sebagai pihak otoriter yang mesti disegani, dipanuti. Murid menganggap guru mengajar hanya menjalankan kewajiban, interaksi guru-siswa terbatas pada jam sekolah. Masyarakat sekarang yang lebih mengarah ke individualis, terutama di kota-kota besar, membuat interaksi personal semakin berkurang. (Sekali lagi maaf…ini kecenderungan yang terlihat menonjol di masyarakat kita). Apakah hal ini merupakan efek domino dari tuntutan jaman atau sistem pemerintahan kita dalam menyusun kurikulum? (sumber : kompasiana)

Hal tersebut ditanggapi oleh Robert Tampoe (http://www.kompasiana.com/sarbutmataniari)  Aku jadi teringat pada kondisi dunia pendidikan pada masa dulu. Saya ambil contoh yang paling sederhana tapi benar-benar positif. Guru pada masa dulu benar-benar disegani oleh muridnya. Sebaliknya, murid masa dulu benar-benar aktif belajar. Murid masa dulu paling takut jika tidak mengerjakan PR, tapi murid masa sekarang? Mana peduli. “Emang gue pikirin” ,katanya.Guru masa dulu jika memberikan ganjaran terhadap muridnya tidak pernah sekali pun orang tuanya protes! Sekarang? Jangan coba-coba kalau tidak ingin berurusan dengan hukum. Untuk menegakkan disiplin saja pun guru sekarang tak kuasa karena takut berurusan dengan hukum.Akhirnya, mana ada wibawa guru sekarang?”

Tidak hanya guru dan siswa, pendidikan di Indonesia pun memiliki perbedaan antara pendidikan dulu (tahun 90an kebawah) dan sekarang (tahun 90an keatas). Perbedaan yang terlihat jelas dapat kita lihat pada kurikulum yang berubah-ubah. Mulai dari kurikulum 1947 yang dalam bahasa belanda disebut leer plan artinya rencana pelajaran yang bersifat politis dan berasaskan Pancasila,  Sampai kurikulum yang belum secara merata digunakan di setiap sekolah yaitu kurikulum 2013 yang (katanya) merupakan kurikulum hasil dari penyempurnaan dari kurikulum yang terdahulu. Walaupun belum terlihat jelas bagaimana wujud aslinya (sumber : blog gurungapak)

Sebelum membuat postingan ini saya juga sempat meminta pendapat dari teman-teman guru di media sosial.

Seperti pendapat dari Ustadzah Dinda yang mengajar di salah satu SD IT di Kapuas. Beliau berpendapat bahwa guru dulu hanya bermodalkan sebuah sepeda ontel (sepeda zaman dulu) karena kecilnya gaji guru seperti lagunya iwan fals yang berjudul Oemar Bakrie. Walaupun mungkin karena saat itu belum ada kendaraan seperti sekarang. Tetapi guru dulu mengajar dengan ikhlas sehingga dapat menjadi panutan bagi siswa-siswanya.  Sedangkan guru sekarang cenderung lebih mementingkan “gengsi” daripada keikhlasan mengajar. Ada yang gengsi kalau pergi mengajar tidak menggunakan mobil dan sebagainya. Guru lama mungkin niat satu-satunya pada waktu itu bagaimana caranya agar siswa bisa membaca dan berhitung. Yang menjadi guru pun pendidikannya hanya sebatas tamatan SMA atau sederajat. Namun berhasil menjadikn siswa-siswinya sukses dengan akhlak dan sopan santun yang luar biasa. Guru sekarang tujuan utama kemungkinan hanya sekedar pekerjaan, mengisi waktu luang, menambah penghasilan. Karena ada pepatah mengatakan segala sesuatu yang dimulai dengan niat, maka pada akhirnya apa yang kita niatkn dari awal itulah hasilnya. Siswa zaman dulu lebih bermoral dan berakhlak, wajar karena didikan dari awal gurunya dan orang tua ikut andil. Apapun yang di lakukan gurunya disekolah terhadap anaknya. Orang tua ikhlas menerima bahkan pulang kerumah malah dinasehati lagi dan membenarkan tindakan gurunya. Siswa sekarang memiliki akhlak yang kurang, wajar karena pertama pengaruh media sangat luas mulai dari akses internet, sinetron, hingga game pun sdh mulai merusak tatanan akhlak. Ditambah lagi ketika guru berusaha menegur malah dianggap remeh bahkan dianggap tindak penganiayaan dan didukung oleh orang tua yang sampai berani melaporkan gurunya ke polisi. Bagaimanapun juga suksesnya siswa tidak luput dari peran lingkungan keluarga dan sekolah.

Ibu Mia Rhadiana juga berpendapat tentang guru dulu yang mempunyai niat untuk mendidik siswa dengan target supaya anak didik menjadi pintar serta memiliki akhlak dan moral. Hal tersebu membuat siswa zaman dulu lebih bermoral. Contohnya ketika siswa bertemu guru langsung cium tangan dan member salam. Sedangkan guru sekarang cenderung lebih mengejar pangkat dan sertifikasi.  Sehingga siswanya mengalami krisis moral yang mengakibatkan tumbuhnya sifat acuh tak acuh bila bertemu dengan guru.
Hal senada juga dikatakan Bapak Muhammad Aminullah  yang mengajar di daerah marabahan dalam komentarnya. Beliau mengatakan “Guru zaman dulu utamanya adalah seorang pendidik moral dan karakter peserta didik yang tangguh, disegani sekaligus "ditakuti" siswa. guru zaman sekarang lebih kepada fasilitator belajar serta pemberi informasi pengetahuan. Begitu juga dengan siswa zaman dulu secara garis besarnya adalah para pembelajar yang "penurut" serta tekun dan patuh pada segala aturan yang ada, berakhlak dan moral yang baik.. sedangkan siswa zaman sekarang adalah peserta didik yang mendapatkan pengetahuan dan informasi yang banyak (dari intern dan ekstern sekolah) namun penanaman nilai dan moral masih perlu diusahakan lebih giat lagi. yang tujuannya untuk memfilter globalisasi yang terus menggerus kearifan dari bangsa ini. Pendidikan dulu berorientasi pada karakter dan moral, sedangkan pendidikan zaman sekarang lebih bersifat pragmatis, condong mengutamakan angka dan rangking namun lemah di penanaman nilai dan karakter”.

Berbeda dengan pendapat di atas, Bapak Teguh yang mengajar di daerah Bangka Belitung. “Pada dasarnya, guru, murid dan pendidikan itu semua sama tidak ada perbedaan. Namun dikarenakan beralihnya zaman yang membawa banyak perubahan dan menuntut akan adanya perubahan sistem maka dilakukanlah perubahan pada semua bagian pendidikan demi menyesuaikan visi misi pendidikan yang dibangun pendiri bangsa pada masa sekarang. Namun, yang sangat disayangkan semakin majunya zaman turut serta membawa efek negatif yang tidak bisa disadari dan disaring oleh bagian dari semua elemen pelaksana pendidikan itu sndri, baik itu pendidik, peserta didik, lingkungn keluarga maupun masyarakat hingga menciptakan berbagai gejala sosial. Kalau boleh dikatakn : jika musuhnya kuat maka jagoannya harus lebih kuat dan dikarenakan kita ditakdirkan menjadi bagian itu maka harus siap sedia. Jangn menutup panca indera namun harus lebih peka serta fleksibel agar dapat terus tampil, berkarya, berkreatif dan beradaptasi di segala bidang pendidikan. Dulu saya pernah mengatakan " dimanapun kita bisa belajar, Karena setiap tempat adalah sekolah, siapapun yang kita temui adalah guru kita yang pastinya memberikan pengetahuan baru bagi kita”.

Ustadzah Norina pun ikut berpendapat,  beliau memiliki pengalaman pribadi yang ingin dibagikan kepada rekan-rekan guru seluruh Indonesia. “Semakin maju zaman, semakin sulit tantangan kedepan, apalagi masalah murid. Murid sekarang hebat-hebat, bahkan mungkin lebih hebat dari gurunya. Anak murid sudah terbiasa dengan internet dan media sosial lainnya. sedangkan gurunya masih banyak yang “gaptek”, sehingga kadang muridnya merasa lebih hebat dari guru sehingga berani pada guru. Kalau murid zaman dulu, mereka sangat haus akan ilmu pengetahun. Yang menjadi pak “google” mereka dulu adalah gurunya. Jadi murid menjadi mudah patuh pada perkataan guru tanpa banyak protes. Sekarang yang dipikiran guru hanya bagaimana membuat RPP seideal mungkin, mengajar sehebat mungkin. dari pikiran administrasi yg banyak menyita waktu daripada mengajar hingga masalah anak terkesampingkan. belum lagi masalah anak sendiri dirumah. Kalau guru dulu mengajarnya dengan hati dan senang tanpa beban administrasi, hingga semua muridnya terperhatikan dengan baik.”

Kesimpulannya, dari setiap zaman yang berbeda pasti selalu ada perbedaan baik tentang guru, siswa, maupun pendidikan itu sendiri. Apakah perbedaan itu mengarah ke positif ataupun kearah negatif. Hal tersebut menjadi tanggung jawab kita bersama, bukan hanya tanggung jawab guru, siswa, maupun pemerintah. Tapi tanggung jawab dari semua elemen masyarakat. 

Mudah-mudahan dengan adanya postingan ini menjadi salah satu cara kita untuk sama-sama memperberbaiki kesalahan-kesalahan kita agar terciptanya pendidikan yang maju.

10 comments:

  1. Memang banyak yang harus diperbaiki dengan sistem pendidikan di Indonesia. Siswa zaman sekarang mengganggap Guru bukan lagi sosok yang dihormati tapi sebagai pelayan mereka. Maka jangan heran mereka akan menjadi generasi yang kualat karena tak menghorati Guru seperti orang tua sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alangkah baiknya kita sama-sama membangun karakter pendidikan di Indonesia, terima kasih kunjungannya pak

      Delete
  2. Begitulah Pak murid zaman sekarang, bukan prestasi yang dicapai malahan bermewahan dan terkesan sombong jg malas. Tapi tidak semua sih, tergantung juga didikan orang tuanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. begitulah kira2 pak, menurut saya tidak hanya tergantung dari didikan orang tua, tapi juga dari lingkungannya yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan siswa tersebut

      Delete
  3. salam sukses selalu sobat
    makasih sudah berbagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih pak atas kunjungan nya

      Delete
  4. Semoga kedepannya kualitas pendidikan di Indonesia bisa lebih baik lagi ya sehingga bisa membawa kualitas sdm yang handal dan bisa bersaing.

    Masfim.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. amin, doa yang harus lebih giat dipanjatkan untuk kemajuan pendidikan di Indonesia

      Delete

Contoh RPP dan Pengertian Model Pembelajaran Inquiry

Suatu pembelajaran biasanya akan lebih efektif jika suatu pembelajaran tersebut didesain supaya menyenangkan bagi siswa. Salah satunya yait...